Angin pun Berbisik; Sebait Puisi dari Tunanetra, Seribu Buku untuk Tunanetra

Angin Pun Berbisik, adalah antologi puisi karya Irwan Dwi Kustanto – seorang tunanetra dan keluarganya. Merupakan kumpulan sajak cinta yang mendapatkan apresiasi dari beberapa penyair dan budayawan ternama di tanah air seperti Jamal D Rahman, Dorothea Rosa, M. Sobari, Joko Pinurbo serta Melani Budianta.

Irwan telah menulis puisi lebih dari sepuluh tahun. Tapi ia tidak menyadari bahwa puisi-puisi buatannya itu sangat pantas dibaca orang banyak. Sampai pada suatu hari, ia mengumpulkan puisi-puisi karyanya dan meminta FX Rudy Gunawan – Pemimpin Redaksi Voice of Human Rights (VHR) membaca sajak-sajak tersebut. Dan, melalui kerja sama antara Mitra Netra, VHR dan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), pada tanggal 23 Januari 2008, Angin Pun Berbisik yang juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris diluncurkan. Acara diadakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ); ada diskusi sastra (bedah buku), pentas teater Meldict (Melihat Dengan Ilmu dan Cinta) yang beranggotakan siswa-siswa tunanetra, pembacaan puisi serta musikalisasi puisi.

“Sejujurnya saya bukanlah penyair. Angin Pun Berbisik adalah kata-kata yang saya coba kumpulkan untuk mengekspresikan perasaan, hasrat, dan semua yang pernah tumpah karena cinta yang mengalir dari kekasih, keluarga, sahabat, alam dan mungkin, Tuhan. Angin Pun Berbisik hanyalah sebuah perjalanan anak manusia, yang jejaknya tersibak oleh huruf. Saya hanyalah debu yang melukis kaki-kakinya pada jalan itu,” begitu kata Irwan, sang penulis.

Ada yang tidak biasa dari antologi puisi ini. Pertama, ini adalah antologi puisi pertama di Indonesia yang disusun oleh sebuah keluarga, Irwan (ayah), Siti Atmamiyah (Ibu) dan Zevva Yurihana (anak); kedua, ide menerbitkan buku ini muncul karena kegelisahan Irwan dan teman-temannya di Mitra Netra akan kelanjutan Gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra. Disepakatilah oleh semua pihak bahwa, sebagian hasil penjualan antologi puisi ini didedikasikan untuk membiayai gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra.

Rangkaian Lirik Dan Nada Indah Iringi Langkah Menuju Seribu Buku Untuk Tunanetra.

Ada lirik dan nada yang indah, dipadukan serta diolah oleh insan-insan kreatif, melahirkan album musikalisasi puisi Angin Pun Berbisik.

Merasakan indahnya musikalisasi puisi yang ditampilkan saat peluncuran antologi puisi Angin Pun Berbisik di GKJ, para seniman yang mendukung acara tersebut berinisiatif membuatnya dalam sebuah album. Setelah mendapatkan persetujuan dari “Sang Penyair”, kembali, Mitra Netra bersama dengan VHR dan PSI menerbitkan CD album kompilasi musikalisasi puisi, yang diambil dari antologi Angin Pun Berbisik.

“Ku ingin engkau ada
Malam ini
Bersamamu
Menatap purnama
Aku dan engkau
Basah dalam lebur cahayanya
Hingga tersaput mega-mega”…

Lirik indah ini adalah penggalan bait dari salah satu lagu dalam CD album musikalisasi puisi Angin Pun Berbisik berjudul Ku Ingin, yang dilantunkan oleh Drew, kelompok musisi muda yang sedang menanjak namanya.

Di samping Drew, bergabung pula seniman-seniman yang sangat dikenal di masyarakat seperti Cornelia Agatha, Maudy Koesnaedi, Christian (Tiket), Nino (ran), Jodhi Yudono, Andre Harihandoyo, Endah & Rhesa serta Dodi & Riko (tunanetra).

Kompilasi musikalisasi puisi ini diproduseri oleh Endah & Rhesa, sepasang musisi muda yang juga aktif menjadi relawan di Mitra Netra. Sebagaimana halnya dengan antologi Angin Pun Berbisik, penjualan CD album musikalisasi puisi ini yang dilakukan secara independent juga didedikasikan untuk membiayai gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra. Dan agar gaung kampanye kesadaran ini tidak hanya bergema di Jakarta, Mitra Netra memilih Gedung Sositet Jogjakarta sebagai tempat peluncurannya.

“Ketika puisi, musik, dan kepedulian kita berbagi melebur dalam gelora hati untuk mewujudkan percepatan ketersediaan literasi bagi tunanetra di Indonesia, semuanya terasa begitu mudah, ramah dan juga indah”, tutur Irwan, sang penyair.

Antologi puisi dan Lantunan lirik dan nada indah bertajuk Angin Pun Berbisik adalah persembahan Mitra Netra beserta para sahabat, yang memimpikan terbukanya jendela informasi lebih lebar bagi sebagian anak bangsa, para tunanetra. Melalui Gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, Mitra Netra telah menyatukan energi yang ada di masyarakat, demi terwujudnya “literasi untuk semua”.

Bagi masyarakat yang ingin memiliki karya seni Angin Pun Berbisik sekaligus memberikan dukungan pada Gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, silakan hubungi Bagian Humas Yayasan Mitra Netra.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *