Tunanetra Ikut Arung Jeram, Siapa Takut?

Banten, Tak bisa melihat bukan berarti tidak butuh rekreasi dan sesekali menjajal tantangan ekstrem seperti arung jeram. Meski orang sering menganggapnya terlalu ekstrem dan berbahaya, tunanetra punya cara tersendiri untuk menikmatinya.

Tunanetra memang tidak bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wujud pusaran air di tengah-tengah aliran sungai, batu-batu besar yang membentuk jeram, maupun pemandangan di sepanjang sungai. Padahal bagi orang kebanyakan, pemandangan itulah yang turut menambah serunya arung jeram.

Bagi orang kebanyakan pula, rasanya percuma mengajak tunanetra melakukan aktivitas ekstrem tersebut. Selain pemandangannya tidak akan bisa dinikmati, risikonya juga terlalu besar karena tanpa bisa melihat maka tunanetra dianggap lebih sulit mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun sekelompok relawan yang tergabung dalam Fellowship of Netra Community (Fency) punya pandangan yang berbeda soal kebutuhan rekreasi kaum tunanetra. Meski tunanetra tidak bisa melihat, Fency menganggap penting kebutuhan akan rekreasi dan aktivitas lain di luar ruangan.

Berangkat dari kepedulian tersebut, Fency bersama dengan Yayasan Mitra Netra mengadakan acara Fun Rafting Adventure di Sungai Ciberang, Lebak, Banten. Sengaja dipilih rafting atau arung jeram, sebab banyak orang meragukan apakah tunanetra bisa menikmati permainan ini.

Sebanyak 3 penyandang tunanetra bergabung dalam kegiatan yang digelar Sabtu (6/4/2013) ini. Tidak banyak memang, karena selain dianggap terlalu ekstrem juga ongkosnya tidak murah. Penting untuk dicatat, kegiatan ini murni didanai dengan kocek pribadi. Bahkan detikHealth yang meliput acara ini pun harus bayar sendiri. Tidak masalah, yang penting semua bisa bergembira!

Petualangan dari titik start menuju finish menempuh jarak sejauh 10 km, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Jeram-jeram yang ada di sungai ini dikategorikan dalam grade 3, yang merupakan batas maksimal untuk aktivitas rekreasi. Artinya, bagi pemula kegiatan ini sudah sangat menantang.

“Buat aku, ini berkesan abis! Karena tunanetra juga butuh experience, biar hidupnya lebih berwarna,” kata Adi Riyanto (36 tahun), penyandang tunanetra asal Jakarta Timur yang juga relawan sekaligus konselor di Yayasan Mitra Netra, usai mengikuti arung jeram, seperti ditulis Senin (8/4/2013).

Meski tidak melihat, para penyandang tunanetra yang turut serta dalam kegiatan ini mengaku ikut merasakan ketegangan setiap kali hendak melewati jeram. Gemuruh air yang membentur batu sudah cukup menggambarkan seberapa dekat jeram itu berada, dan seberapa kuat perahu karet yang ditumpanginya akan terhempas nantinya.

“Sempat, tadi sempat takut juga. Wajar sih kalau itu semua juga berteriak. Bukan karena nggak bisa melihat. Nggak melihat pun, bisa merasakan. Merasakan dan mendengar, deketnya seberapa gitu lho,” kata Melissa (25 tahun), penyandang tunanetra dan juga seorang penulis cerpen yang sebelumnya sudah punya pengalaman 2 kali ikut rafting.

Relawan Yayasan Mitra Netra, Aria Indrawati yang juga penyandang tunanetra membenarkan bahwa kegiatan luar ruangan seperti ini sangat besar manfaatnya. Bukan sekedar untuk senang-senang, melainkan juga untuk membentuk sikap positif dalam hidup keseharian.

“Banyak orang mengira tunanetra tidak butuh rekreasi. Itu tidak benar, justru penting untuk sesekali melakukan aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Kalau sering-sering refreshing seperti ini, kita jadi bisa menyikapi berbagai masalah itu dengan lebih positif,” kata Aria, relawan senior yang keberatan disebutkan usianya.

Diakui oleh Aria, tunanetra mempunyai cara yang berbeda dalam menikmati aktivitas semacam ini. Misalnya karena tidak bisa melihat, kadang-kadang tunanetra justru tidak terlalu takut saat mengikuti outbound lalu disuruh berjalan di atas tali yang dipasang di ketinggian tertentu. Namun dari apa yang didengar dan dirasakan, tunanetra bisa menikmati serunya aktivitas tersebut.

Bersama dengan para relawan Fency, Yayasan Mitra Netra sudah beberapa kali mengadakan rekreasi bersama kaum tunanetra. Tahun lalu misalnya, kegiatan yang sudah dilakukan adalah jalan-jalan menjelajah museum yang ada di Kota Tua Jakarta dan menikmati ombak di Ancol.

Sumber: http://health.detik.com/read/2013/04/08/100127/2213935/763/tunanetra-ikut-arung-jeram-siapa-takut

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *