Tunanetra Unjuk Kemampuan Berbahasa Inggris dalam Mitra Netra English Contest 2013

Dua puluh delapan orang tunanetra dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat ikut serta dalam Mitra Netra English Contest 2013 pada Sabtu (9/11) di kantor Yayasan Mitra Netra, Jalan Gunung Balong II No. 58, Lebak Bulus III, Jakarta Selatan. Lomba Bahasa Inggris untuk tunanetra yang diselenggarakan oleh Mitra Netra English Club ini merupakan yang kedua setelah sukses dengan kegiatan serupa pada 2010.

Mengusung tema “With English We Reach Our Dreams”, lomba ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi tunanetra untuk bisa menggali potensi dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berbahasa Inggris. Demikian seperti yang dikatakan Irma Hikmayanti, Ketua Panitia lomba ini. Menurut Irma, yang juga seorang tunanetra dan pengajar di Mitra Netra English Club, banyak tunanetra yang memiliki potensi yang besar, tetapi masih sedikit sekali yang menyadari bahwa mereka memiliki potensi tersebut. Hal ini karena masih kurangnya kesempatan untuk bisa mengembangkan dan membangun lebih besar lagi potensi dalam diri mereka. Termasuk potensi dalam berbahasa asing, khususnya berbahasa Inggris.

Dalam lomba ini, para peserta dibagi dalam dua kelompok: anak-anak dan dewasa. Kelompok anak-anak, melombakan kategori “Spelling” (mengeja kata) dan “Story Telling” (mendongeng). Sedangkan kelompok dewasa melombakan kategori “Story Telling” (mendongeng) dan “Speech” (pidato).

Tim juri yang merupakan para relawan dalam kegiatan ini, yakni: Zack Petersen (wartawan “The Jakarta Globe” dari Amerika Serikat), Sara Schonhardt (wartawan “The Wallstreet Journal” dari Amerika Serikat), Mila Hadiyani (Kepala Sekolah “The Apple Tree International Pre-School”, Jakarta), dan Vivi Riana Sianturi (Guru dan Penerjemah Bahasa Inggris di Compassion Indonesia, sebuah LSM internasional) akhirnhya memutuskan para juara untuk setiap kelompok dan ketegori lomba sebagai berikut:

A. Kelompok anak-anak untuk kategori “Spelling” (mengeja kata):
– Juara 1: Tiara Aufanisa (Mitra Netra English Club, Jakarta).
– Juara 2: Nenden Sri Agustina (Acces-SLB-A Kota Bandung).
– Juara 3: Aini Duha Hidayah (SLB-A Elsafan, Jakarta).

B. Kelompok anak-anak untuk kategori “Story Telling” (mendongeng):
– Juara 1: Kenichi Satria Kaffa (Mitra Netra English Club, Jakarta).
– Juara 2: Ahmad Maulana (Mitra Netra English Club, Jakarta).
– Juara 3: Nenden Sri Agustina (Acces-SLB-A Kota Bandung).

C. Kelompok dewasa untuk kategori “Story Telling” (mendongeng):
– Juara 1: Wijaya (Jakarta).
– Juara 2: Deasy Junaedi (Jakarta).
– Juara 3: Aryani Sri Ramadhani (Jakarta).

D. Kelompok dewasa untuk kategori “Speech” (pidato):
– Juara 1: Aryani Sri Ramadhani (Jakarta).
– Juara 2: Wijaya (Jakarta).
– Juara 3: Oki Kurnia (Jakarta).

Wijaya, juara 1 “Story Telling” dan juara 2 “Speech” untuk kelompok dewasa, tidak menyangka bahwa dirinya akan menyabet dua gelar tersebut karena pada lomba sebelumnya di tahun 2010, dia tidak mendapatkan gelar satu pun. Jejaka 23 tahun yang bekerja di Bank CIMB Niaga ini berharap lomba ini terus diadakan secara rutin di masa datang dengan lebih baik dan lebih banyak peserta.

Akan halnya Kenichi Satria Kaffa, juara 1 “Story Telling” untuk kelompok anak-anak, merasa senang mendapatkan gelar tersebut. Bocah 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas 5 SLB-A Negeri Pembina Tingkat Nasional, Jakarta ini mengaku belum pernah mengikuti lomba seperti ini sehingga kemenangan yang diraihnya sangat membahagiakan dan membanggakan dirinya dan orang tuanya.

Biarkan mimpi itu digantungkan setinggi langit. Dan berikanlah kesempatan bagi mereka untuk meraihnya. Karena dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya, maka mimpi yang tergantung tinggi di langit pun bukanlah hal yang mustahil untuk digapai. Seperti kesempatan yang diberikan untuk mengikuti lomba ini. Artinya, bila kesempatan itu terbuka, maka potensi dan bakat pun akan terlihat. Bukan tidak mungkin akan banyak tunanetra yang memiliki potensi dan bakat di bidang bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris.

“Bahasa adalah alat komunikasi. Dengan menguasai minimal satu bahasa internasional, tunanetra akan dapat membangun dan mengembangkan jaringan dengan kalangan yang lebih luas di dunia internasional, baik dengan sesama penyandang disabilitas maupun dengan mereka yang tidak menyandang disabilitas. Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di luar negeri pun dapat mereka tempuh dengan memiliki kemampuan berbahasa Inggris”, ungkap Aria Indrawati, Kepala Bagian Humas Yayasan Mitra Netra. *Muizzudin Hilmi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *