Layanan Konseling Mitra Netra Bantu Tunanetra Temukan Harapan

Pagi itu saya menerima email dari seorang pria, yang menceritakan bahwa sahabatnya telah mengalami penurunan penglihatan. Saat ini, sang sahabat hanya dapat mengenali cahaya, dan tidak dapat lagi mendeteksi bentuk benda-benda. Kondisi ini biasa disebut “blind with light perception” atau kebutaan yang masih dapat mempersepsi cahaya. Sang sahabat mengalami penurunan penglihatan akibat “glaukoma”, yaitu meningkatnya tekanan cairan bola mata yang berdampak pada kerusakan sistem saraf mata, yang dialaminya sejak tahun 2010. Karena kondisi ini, sahabat itu pun mengundurkan diri dari bank tempat ia bekerja.

Cuplikan kisah di atas adalah satu dari sekian banyak kejadian, mereka yang menjadi tunanetra di usia dewasa. Bagi kelompok ini, yang dalam bahasa Inggris disebut “adult blind”, pada awalnya mereka menghadapi situasi lebih sulit; harus melewati masa transisi dari sebelumnya dapat melihat dan kini menjadi tunanetra.

Apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti ini?

Pertama dan terutama adalah “dukungan keluarga dekat”. Kita semua memahami Pasti terjadi “guncangan” besar saat sang kepala keluarga atau ibu yang selama ini bertugas mengurus keluarga tiba-tiba atau secara bertahap menjadi tunanetra. Kejadian serupa juga dapat dialami oleh anggota keluarga atau anak yang sedang tumbuh remaja atau dewasa. Karena sesuatu hal anak remaja atau yang sedang tumbuh dewasa dapat menajdi tunanetra. Ini biasanya berdampak pada pendidikan anak tersebut. Biasanya mereka akan mengalami “droped out” sekolah atau kuliah. Jika ketunanetraan dialami oleh anak, guncangan akan terjadi apda kedua orang tua mereka, di samping anak tunanetra tersebut.

Meski dalam kondisi terguncang semacam ini, keluarga terdekat harus saling mendukung, terutama memberikan dukungan pada anggota keluarga yang mengalami tunanetra. Anggota keluarga, atau pasangan, perlu menumbuhkan rasa empati, yaitu rasa dapat memahami. Kita perlu mengetahui dan memahami, bahwa tak seorang pun menginginkan atau merencanakan menjadi tunanetra. Menjadi tunanetra adalah fakta dan kondisi, yang harus diterima dan dijalani, tanpa dapat menawar atau memilih.

Langkah berikutnya, keluarga mengupayakan dukungan dari profesional, yaitu orang atau lembaga yang memiliki keahlian dalam mendampingi mereka yang baru mengalami tunanetra. Lembaga inilah “Yayasan Mitra Netra”. Salah satu layanan yang Mitra Netra kembangkan dan sediakan adalah “layanan konseling untuk mereka yang baru menjadi tunanetra, baik di usia remaja atau dewasa, yang diberikan oleh konselor sesama tunanetra”.

Mengapa konselor sesama tunanetra?

Konselor sesama tunanetra akan multi fungsi. Pertama, pasti akan berempati pada klien yang dilayani, yaitu mereka yang baru mengalami tunanetra, karena ia juga seorang tunanetra. Kedua, konselor sesama tunanetra sekaligus berfungsi sebagai “role model atau contoh” bagi klien tunanetra tersebut. Kehadiran konselor sesama tunanetra merupakan “bukti” kongkrit, bahwa, menjadi tunanetra bukan akhir segalanya; menjadi tunanetra tetap dapat berkarya dan berguna bagi sesama.

Apa tugas konselor sesama tunanetra?

Menjadi tunanetra memang tidak mudah. Apalagi, yang menjadi tunanetra adalah orang yang sebelumnya dapat melihat. Namun, menjadi tunanetra adalah fakta yang harus diterima dan dijalani. Di sinilah peran konselor sesama tunanetra, yaitu mengajak mereka yang baru menjadi tunanetra dan keluarga mereka “menerima”, “bersahabat” dan “berdamai” dengan kondisi tunanetra tersebut.

Tak dapat dipungkiri, mereka yang baru menjadi tunanetra akan merasa “dunia berakhir”, tak ada lagi harapan untuknya. Dalam kondisi ini, peran konselor sesama tunanetra adalah “menumbuhkan harapan baru”. Bagaimana caranya? Dengan menginformasikan pelbagai kemungkinan dan kemajuan yang telah dicapai oleh tunanetra, di bidang pendidikan, pekerjaan, dukungan teknologi dalam membantu kemandirian tunanetra, kemajuan gerakan disabilitas baik di tingkat global maupun nasional, dan sebagainya. Informasi ini akan perlahan menumbuhkan harapan bagi mereka yang baru menjadi tunanetra. Mereka akan berpikir, kemungkinan baru, kemungkinan mereka dapat menjadi seperti dan menjadi bagian dari kemajuan yang diinformasikan sang konselor.

Tahap berikutnya, konselor akan menginformasikan pelbagai adaptasi yang perlu dilakukan oleh mereka yang baru menjadi tunanetra, dan cara mempelajarinya serta melakukannya. Di antaranya adalah melalui pelbagai pelatihan yang dapat diikuti oleh mereka yang baru menjadi tunanetra tersebut. Pelatihan itu antara lain, , pelatihan orientasi dan mobilitas, pelatihan bagaimana menggunakan komputer, pelatihan dan bimbingan karir persiapan studi lanjut atau persiapan kembali bekerja, dan sebagainya.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk penyesuaian tersebut?

Setiap individu berbeda. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Di antaranya, kemauan diri sendiri untuk bangkit, serta dukungan keluarga dekat serta para sahabat. Untuk membuat proses pendampingan lebih efektif, biasanya konselor juga memperkenalkan mereka yang baru menjadi tunanetra dengan sosok-sosok tunanetra yang memiliki kondisi serupa dengan mereka, yang telah berhasil melewati “masa kritis, yaitu masa transisi dari semula dapat melihat kemudian menjadi tunanetra”, dan telah kembali menjalani serta melanjutkan kehidupannya.

Banyak contoh-contoh mereka yang baru menjadi tunanetra di usia remaja atau dewasa, yang saat ini telah berkarya dan menjadi manusia berguna di masyarakat. Bambang Basuki, Salah satu pendiri Yayasan Mitra Netra adalah contohnya. Menjadi tunanetra di usia remaja saat SMA, sempat tidak melakukan apa pun selama lima tahun karena ketidaktahuannya, dan akhirnya terinspirasi menjadi guru. Ia lalu menempuh pendidikan guru di IKIP Jakarta, dan menjadi guru bahasa Inggris sekolah luar biasa untuk tunanetra. Pada tahun 1991, Bambang Basuki mendirikan Yayasan Mitra Netra, karena keprihatinannya akan minimnya fasilitas dan layanan pendukung pendidikan bagi tunanetra di Indonesia.

Konsep “peer counseling for the blind” atau “layanan konseling yang diberikan oleh konselor sesama tunanetra” diperkenalkan oleh Yayasan Mitra Netra sejak awal pendirian Yayasan ini. Layanan ini telah mendampingi ratusan tunanetra di Jakarta dan sekitarnya.

Baru-baru ini ada sebuah film yang menggambarkan dan menceritakan perjuangan sebuah keluarga, mendampingi anak remaja mereka yang secara perlahan menjadi tunanetra. Judul film tersebut “jingga” karya sutradara Lola Amaria. Film semacam ini sangat bagus ditonton oleh masyarakat. Film ini memberikan pelajaran, bagaimana seharusnya orang tua bersikap jika ada salah saeorang anak mereka yang menjadi tunanetra.

Tak mengapa jika kita dipilih menjadi tunanetra. Jika kita dapat menyikapi dan menjalaninya dengan baik, tunanetra juga dapat menikmati kebahagiaan hidup. *Aria Indrawati.