Oktober, Bulannya Tunanetra

Bulan Oktober adalah bulan Istimewa bagi tunanetra. Di bulan Oktober, ada dua hari penting untuk tunanetra.

Pertama, jatuh pada kamis minggu kedua bulan Oktober, yaitu “Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day WSD”. WSD dicanangkan oleh Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization WHO) pada tahun 2000, dengan tujuan untuk menyadarkan dunia akan tingginya angka kebutaan di bumi ini. Saat ini, diperkirakan ada 285 juta tunanetra di dunia. Dan di Negara sedang berkembang seperti Indonesia, angka kebutaan mencapai 1,5% dari jumlah penduduk. Berarti, dengan penduduk 250 juta, saat ini ada 3,750,000 tunanetra di Indonesia.

Peringatan WSD biasanya identik dengan “upaya pencegahan dan penanggulangan kebutaan”. Menurut WHO, 80% kebutaan memang dapat dicegah dan ditanggulangi. Di antaranya adalah kebutaan karena katarak dan karena kekurangan vitamin A. Olehkarenanya, peringatan WSD biasanya ditandai dengan adanya operasi katarak gratis bagi mereka yang tidak mampu, atau, pembagian kacamata bagi anak-anak sekolah yang tidak mampu yang membutuhkan kacamata karena refraksi error.

Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) pada tahun 2016 ini juga mengambil peran dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebutaan. Dalam peringatan 50 tahun Pertuni bulan Januari lalu, Pertuni mengadakan operasi katarak gratis di Surabaya, Solo dan Jogjakarta. Dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 71 bulan Agustus lalu, Pertuni mengadakan operasi katarak gratis bersama Matanya Eye Clinic di Jakarta. Demikian pula pada peringatan WSD bulan Oktober ini, Pertuni kembali menyelenggarakan operasi katarak gratis bersama Jakarta Eye Center. Dalam menyelenggarakan operasi katarak gratis, Pertuni bekerja sama dengan Yayasan Damandiri untuk mendukung pendanaan kegiatan tersebut.

Jika 80% kebutaan dapat dicegah dan ditanggulangi, ada 20% sisanya, adalah kelompok yang mengalami gangguan penglihatan permanen, mulai dari lemah penglihatan hingga buta total. Untuk kelompok yang 20% ini, penangannya bukan dengan tindakan medis, melainkan dengan penyediaan fasilitas dan layanan khusus yang mereka butuhkan, sehingga mereka yang mengalami gangguan penglihatan permanen ini tetap dapat menjalani kehidupan berkualitas sama seperti mereka yang tidak tunanetra.

Ada juga beberapa pihak yang memperingati Hari Penglihatan Dunia dengan membangun kesadaran akan pentingnya fasilitas khusus untuk para tunanetra � yang 20%. Di antaranya adalah Standard Chartered Bank (SCB). Tahun ini, tepatnya pada tanggal 9 Oktober lalu, SCB menyelenggarakan dua kegiatan untuk memperingati WSD. Pertama, “sport for sight”, yaitu berolahraga bersama antara mereka yang tunanetra dengan mereka yang tidak tunanetra. Kedua, menggalang relawan dari kalangan karyawan dan stake holder terkait,untuk membantu mengetik ulang buku-buku popular yang selanjutnya disumbangkan ke Yayasan Mitra Netra untuk diproses menjadi buku elektronik format epub dan buku Braille.

Hari besar Kedua di bulan Oktober adalah “hari tongkat putih atau white cane safety day atau white cane day”, yang diperingati setiap tanggal 15 Oktober. Tongkat putih bagi tunanetra adalah symbol kemandirian, terutama kemandirian dalam bermobilitas. Olehkarenanya, pada peringatan 50 tahun Pertuni bulan Januari 2016, organisasi kemasyarakatan tunanetra tingkat nasional ini menyelenggarakan “parade tongkat putih”, dari Surabaya hingga Jakarta.

Pesan terkini dalam peringatan Hari Tongkat Putih adalah menggugah kesadaran para pengguna jalan akan adanya pengguna jalan yang menggunakan tongkat, yaitu para tunanetra. Pengguna jalan harus menghargai dan melindungi tunanetra yang bermobilitas di jalan raya. World Blind Union pun memberikan perhatian khusus pada meningkatnya angka kecelakaan yang dialami oleh tunanetra, yang dikarenakan oleh kelalaian pengendara mobil dan motor. Terlebih lagi, saat ini suara kendaraan bermotor dibuat demikian halus untuk mengurangi polusi suara. Namun, hal tersebut justru membahayakan tunanetra yang bermobilitas di jalan raya, yang sangat mengandalkan pendengaran mereka.

Aksessibilitas fasilitas jalan raya pun menjadi perhatian dalam peringatan Hari Tongkat Putih. Jalur pemandu dan jalur peringatan pada trotoar dan tombol suara untuk membantu tunanetra menyeberang jalan adalah dua fasilitas penting yang harus ada di jalan-jalan di seluruh penjuru dunia. Tak pantas suatu kota diberikan predikat kota modern jika tak ada fasilitas khusus untuk pengguna jalan yang menyandang tunanetra.

Tunanetra merupakan bagian dari keragaman manusia. Keragaman karena tunanetra berdampak pada munculnya kebutuhan khusus. Dengan pendekatan “social model” yang dicanangkan oleh UN Convention on the Rights of Persons with Disability UN CRPD, lingkungan dan dunia kita harus dirancang ulang, diperbaiki, agar para tunanetra dapat hidup dan berpartisipasi penuh di semua aspek kehidupan secara inklusif, bersama mereka yang tidak tunanetra. *Aria Indrawati.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *