Kekuatan Sebuah Pembuktian

Sejak pertengahan tahun 2000an, di saat penggunaan komputer oleh Penyandang tunanetra mulai membanyak sebagai salah satu bentuk keberhasilan Yayasan Mitra Netra mendesiminasikan penggunaan komputer di kalangan tunanetra di Indonesia, keinginan untuk belajar teknik informatika di kalangan tunanetra sudah mulai muncul, khususnya dari mereka yang memiliki minat mendalami teknologi komputer. Namun, keinginan tersebut terganjal oleh kendala aksesibilitas proses pembelajaran pada jurusan IPA di SMA regular.

Hingga kini, program studi teknik informatika di perguruan tinggi cenderung hanya menerima lulusan SMA dari jurusan IPA, atau lulusan SMK yang mengambil jurusan teknik komputer. Sementara, tunanetra yang menempuh pendidikan di sekolah regular secara inklusif hanya dapat menempuh jurusan IPS, karena proses pembelajaran pada jurusan IPA di Indonesia hingga kini tidak dapat diakses oleh siswa tunanetra. Adanya persyaratan bahwa calon mahasiswa yang mendaftar teknik informatika di perguruan tinggi harus berasal dari jurusan IPA tentu menghalangi tunanetra untuk mendaftar ke program studi teknik informatika tersebut.

Di sisi lain, di pelbagai pertemuan baik yang berskala regional maupun internasional, penulis bertemu dengan tunanetra yang membangun karir di bidang pengembangan perangkat lunak/aplikasi. Satu di antaranya, Michael Current, tunanetra asal Australia pengembang aplikasi pembaca layar versi open source NVDA – Non Visual Desktop Access, yang saat ini digunakan oleh jutaan tunanetra di seluruh dunia.

“Perlu bukti”, itu kata kuncinya. Bukti Apa? Yaitu bukti bahwa tunanetra mampu belajar teknik informatika; tunanetra dapat belajar pemrograman; dan tentu dimulai dari tingkat dasar. Untuk menghadirkan “bukti” tersebut di Indonesia ini, tentu butuh langkah-langkah yang harus ditempuh, serta butuh sumber dana untuk membiayainya.

Yayasan Mitra Netra kembali mengambil peran untuk menghadirkan “bukti” tersebut.

Langkah pertama yang ditempuh adalah meningkatkan kemampuan instruktur kursus komputer untuk tunanetra di Mitra Netra. Sang instruktur diberikan pelatihan secara berjenjang dan bertahap agar mengerti teknik pemrograman. Siapa yang melatih? Mitra Netra mengajak praktisi pemrograman untuk menjadi volunteer, mengajarkan teknik pemrograman tingkat dasar kepada instruktur kursus komputer di Mitra Netra. Mulai dari karyawan BPPT, hingga komunitas PHP di Jakarta. Penghimpunan dana pun dilakukan agar Mitra Netra dapat memulai kursus pemrograman tingkat dasar. Bekerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) yang memiliki sumber dukungan dana untuk kegiatan pemberdayaan mahasiswa tunanetra, kursus pemrograman komputer tingkat dasar pun dimulai pada tahun 2016, dengan menyasar mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi. Hingga saat ini, kursus pemrograman telah dilaksanakan sebanyak dua angkatan, menjangkau 22 orang tunanetra muda di Jakarta.

Saat kursus pemrograman angkatan kedua dimulai pada bulan Juni 2017, Mitra Netra mengundang tim dosen program studi teknik informatika Universitas Pamulang, dan saat itulah mereka menyaksikan bahwa tunanetra memang dapat mempelajari teknik pemrograman komputer. Kunjungan itu menjadi momentum penting, momentum untuk membuktikan dan meyakinkan bahwa tunanetra dapat belajar pemrograman komputer. *Aria Indrawati.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *