Tunanetra Mencicipi Industri Digital Media, Bisakah?

Tunanetra bekerja di industry digital? Mungkin hal ini masih terdengar tidak masuk akal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, agaknya tidak demikian dengan Think.Web, sebuah digital media agency tempat saya bekerja saat ini. Ketika banyak perusahaan lain berpikir puluhan kali untuk mempekerjakan tunanetra, Ramya Prajna Sahisnu, CEO Think.Web justru membuka peluang lebar untuk tunanetra berkarya di perusahaannya. Sebuah pemikiran yang out of the box, mengingat belum banyak orang yang memahami, bahwa perkembangan teknologi saat ini memungkinkan tunanetra bekerja dengan komputer dan internet.

November 2017, saya mulai bekerja di Think.Web sebagai Content Writer. Tiga bulan pertama adalah masa percobaan untuk setiap karyawan baru, termasuk saya yang menyandang tunanetra low vision. Di masa percobaan ini, saya menerima sesi mentoring seminggu sekali. Materinya tak hanya soal brand yang dikelola Think.Web, tapi saya juga diperkenalkan dan dibiasakan untuk menggunakan beberapa tools dan aplikasi yang biasa digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.

Salah satu tools yang digunakan oleh Divisi Content, yaitu Think-Posta, aplikasi yang dibuat sendiri oleh Think.Web untuk mengatur jadwal posting pada akun-akun media sosial yang dikelola Think.Web. Saat sesi mentoring, saya diminta mencoba menggunakan Posta, memastikan bahwa tools tersebut cukup aksesibel dengan screen reader pada laptop yang saya gunakan.

Sebagai perusahaan berbasis digital, tentu cukup banyak koordinasi pekerjaan yang juga dilakukan secara online. Selain Posta, setiap karyawan juga berkoordinasi dengan menggunakan Google Drive untuk berbagi dokumen. Untuk chatting internal, digunakan Slack. Sementara, untuk management project digunakan Basecamp. Selain itu, aplikasi Harvest juga digunakan untuk melaporkan pekerjaan yang telah diselesaikan setiap harinya.

Cukup banyaknya aplikasi yang digunakan dalam pekerjaan sehari-hari, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi tunanetra seperti saya. Meski aplikasi yang digunakan terbilang cukup aksesibel dengan perangkat lunak pembaca layar pada laptop ataupun smartphone tunanetra, saya memerlukan waktu tersendiri untuk mempelajari penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut agar dapat bernavigasi dengan lancar. Oleh karena itu, selama tiga bulan masa percobaan juga saya manfaatkan sebaik mungkin untuk membiasakan diri menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut dengan bantuan perangkat lunak pembaca layar.

Mendekati akhir masa percobaan, saya mulai dilibatkan dalam sebuah project, yaitu salah satu brand suplemen penambah darah. Sebagai content writer, tugas utama saya adalah membuat content plan tiap bulan dan editorial plan tiap minggu untuk nantinya dipost pada media sosial dari brand tersebut. Dalam menjalankan tugas, seorang content writer tidak hanya menuliskan copy status, tetapi juga memberikan referensi image, copy on image, video content, dan membuat deskripsi untuk Instagram Stories. Referensi visual tersebut yang selanjutnya akan menjadi acuan desainer untuk membuat desain yang akan dipost bersamaan dengan content yang dibuat oleh content writer. Selain itu, seorang content writer juga akan diminta menyusun plot dalam membuat photo shoot planning. Terkait dengan tugas kerja yang bersifat visual tersebut, saya yang tunanetra diberikan rekan tandem, yaitu seorang content writer berpengelihatan awas. Dengan kata lain, tugas yang diberikan pada content writer tunanetra seperti saya hanya tugas-tugas yang memang bisa dikerjakan dengan bantuan perangkat lunak pembaca layar. Sedangkan tugas yang bersifat visual dibantu oleh content writer lain.

Dengan kesempatan kerja yang diberikan Think.Web, terbukti bahwa tunanetra mampu bekerja secara formal di bidang digital media. Keterbatasan pengelihatan bukanlah hambatan, jika instansi penyedia lapangan kerja bersedia memberikan beberapa penyesuaian sebagaimana yang dilakukan Think.Web kepada karyawan penyandang disabilitas. Dengan semakin berkembangnya teknologi aksesibel, saya berharap kelak akan semakin banyak perusahaan berbasis digital yang bersedia memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Dengan demikian, tunanetra akan memiliki semakin banyak bidang kerja yang dapat digeluti sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.

Hadianti Ramadhani
Content Writer di Think.Web

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *