Happy World Braille Day January 4th 2019

Tunanetra, Sekolah Yuk.

4 Januari 2019. Pada Bulan Desember 2018, Hari Braille telah diakui secara resmi oleh PBB sebagai hari besar dunia, sama seperti 3 Desember yang diperingati dunia sebagai Hari Disabilitas Internasional. Olehkarenanya, hari ini, 4 Januari 2019, masyarakat dunia secara resmi bersama-sama Perserikatan Bangsa-Bangsa merayakan World Braille Day, atau Hari Braille Dunia.

Mengapa Braille penting diperingati?

Huruf Braille diciptakan oleh Louis Braille agar tunanetra dapat bersekolah, karena untuk sekolah, tunanetra, sama seperti mereka yang tidak tunanetra, harus dapat membaca dan menulis. Namun, kenyataannya, masih banyak anak-anak tunanetra di dunia ini, termasuk di Indonesia, yang belum bersekolah meski sudah memasuki usia sekolah, bahkan telah melewati usia sekolah, dan sudah barang tentu, mereka tidak dapat menulis dan membaca.

Tidak hanya itu. Pembelajaran huruf Braille untuk anak-anak tunanetra pun belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Contohnya di Indonesia. Tidak semua guru yang ditempatkan di sekolah luar biasa mengerti huruf Braille. Sistem pembelajaran huruf Braille pun belum distandarkan secara nasional. Alat tulis untuk menulis Braille pun – yaitu Riglet dan Stylus, serta mesin tik Braille manual, tidak dapat diperoleh dengan mudah oleh anak-anak tunanetra. Dengan memperingati Hari Braille Dunia, kita akan selalu diingatkan, betapa pentingnya kegiatan membaca dan menulis untuk tunanetra, sebagai salah satu pilar penting pendidikan.

Lalu, bagaimana dengan ketersediaan buku Braille?

Untuk buku pelajaran pun masih sangat terbatas; Apalagi, buku Braille untuk mata pelajaran yang memiliki symbol-simbol khusus, seperti matematika, fisika, kimia, notasi music, serta agama Islam yang harus memahami huruf Arab dalam Braille. Jumlah ahli yang memahami symbol-simbol Braille di bidang-bidang tersebut pun masih sangat terbatas. Lalu, bagaimana tunanetra dapat bersekolah dan belajar dengan baik jika buku Braille untuk mereka masih terbatas?

Apakah Braille dapat digantikan dengan teknologi?

Jawabnya, “tidak”. Teknologi merupakan sarana pendukung dan melengkapi, tapi tidak menggantikan.

Anak-anak tunanetra yang memasuki usia sekolah harus belajar membaca dan menulis huruf Braille, sama seperti anak-anak yang tidak tunanetra. Olehkarenanya, ketersediaan guru yang mengerti pengajaran huruf Braille yang benar harus cukup. Orang tua yang memiliki anak tunanetra juga harus berperan dalam pengajaran huruf Braille untuk anak-anak mereka.

Peran Yayasan Mitra Netra.

Sebagai lembaga pengembang dan penyedia layanan untuk tunanetra di bidang pendidikan, Yayasan Mitra Netra memiliki peran penting dalam membangun system produksi dan distribusi buku Braille di Indonesia. Mulai dari menciptakan aplikasi Mitra Netra Braille Converter untuk mempermudah dan mempercepat pembuatan buku Braille dengan teknologi computer; Memiliki sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang symbol Braille; Menciptakan perpustakaan Braille online dengan nama Komunitas E-Braille Indonesia untuk mempermudah distribusi buku Braille di Indonesia; Hingga menerima permintaan buku Braille dari tunanetra di seluruh Indonesia, terutama buku Braille untuk bidang studi yang memiliki symbol-simbol khusus.
Untuk memastikan agar setiap anak tunanetra di seluruh Indonesia dapat membaca dan menulis Braille, Penulis berpendapat perlu ada gerakan pemberantasan Buta Huruf Braille Di Indonesia. Gerakan ini harus menjangkau seluruh pulau di Indonesia, baik pulau besar maupun kecil, termasuk pulau terluar negeri ini. Kita, generasi penerus Louis Braille, wajib melanjutkan perjuangannya. “Education for all” harus menjangkau anak tunanetra di seluruh Indonesia, sehingga slogan pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development goals SDGs) – “left no one behind” benar-benar diterapkan.

“Terima kasih Louis Braille untuk penemuanmu yang luar biasa ini. Dengan Huruf Braille, tunanetra menjadi cerdas, berdaya, Mandiri, dan dapat berkarya di masyarakat bersama mereka yang tidak tunanetra”.

*Aria Indrawati.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *