ANJUNGAN TUNAI (TIDAK) MANDIRI*

Karya : Deasy Junaedi

Setiap kali hendak mengambil uang di Anjungan Tunai Mandiri (ATM), batin saya selalu bergumul. Sebenarnya saya tak menyukai hal ini. Tapi apa boleh buat. Sekarang, meminta bantuan orang lain untuk menemani saya ke mesin ATM adalah solusi terbaik. Saya merasa, ini bukan yang paling aman dan nyaman.

Tiap kali melakukan transaksi, mereka harus membantu saya memasukkan kartu ATM. Mengarahkan jari saya ke tombol angka untuk menekan nomor PIN. Ini bisa diintip dengan mudah. Lalu mereka harus membacakan pilihan yang tertera di layar ATM. Kadang kala suara dari orang yang membacakan itu menarik perhatian di sekitar. Hal ini bisa menimbulkan berbagai pikiran negatif. Bahkan mungkin bisa menjadi sasaran empuk bagi para penjahat perbankan seperti skimming ATM.

Biasanya saya meminta orang-orang yang saya kenal baik. Bisa saudara, teman, sahabat, atau jika kepepet tak ada seorang pun yang bisa menemani saya ke ATM, saya terpaksa meminta bantuan tukang ojek.

Pernah suatu kali ketika seorang sahabat menemani mengambil uang di ATM, dia bertanya kepada saya, “Eh, memangnya lu enggak takut kalau duit lu nanti gue curi ya?”

Spontan saya menjawab, “Enggaklah. Lu kan lebih kaya daripada gue.” Kenyataannya memang sahabat saya ini memang lebih kaya daripada saya.

“Hmm, gimana kalau suatu hari gue bokek, terus gue ambil duit lu?”

Pertanyaan sahabat saya itu sebenarnya sempat terlintas di benak ketika saya meminta bantuan orang lain saat menarik uang tunai di ATM.

Awalnya, sebagai sosok yang berpenglihatan normal, saya tidak pernah mengalami kesulitan untuk melakukan berbagai transaksi perbankan secara mandiri. Namun, semuanya berubah saat saya terkena suatu penyakit mata yang menyebabkan penglihatan mengalami penurunan secara bertahap hingga buta. Sejak itu, ada banyak hal yang mau tak mau, saya harus meminta bantuan orang lain. Salah satu di antaranya adalah urusan perbankan.

Padahal bagi saya, sebenarnya urusan perbankan terutama mengenai simpanan nasabah itu adalah hal yang sangat sensitif dan bersifat pribadi. Dengan bantuan teknologi saat ini, tunanetra bisa melakukan beberapa transaksi perbankan secara mandiri. Bisa melakukaan transfer atau mengecek saldo melalui SMS banking dan internet banking. Namun masih ada beberapa hal yang tetap harus melibatkan bantuan orang lain, misalnya untuk menarik uang tunai di ATM.

Saat ini kebanyakan ATM yang ada tidak memberikan akses yang ramah bagi penyandang tunanetra. Para tunanetra mengalami kesulitan saat ingin mengambil uang atau transaksi. Padahal, para tunanetra memiliki hak yang sama dengan masyarakat umum untuk memperoleh akses perbankan yang mudah.

Keprihatinan para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra yang masih mengalami hambatan ketika hendak mengakses informasi perbankan ini sebenarnya sudah mendapatkan respons positif dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI.

Pada tanggal 3 Desember 2014, dalam rangka memeringati Hari Disabilitas Internasional, Kemensos menggandeng empat bank yakni BNI, BRI, BCA, dan Bank Mandiri. Keempat bank tersebut akan memodifikasi mesin ATM menjadi anjungan tunai mandiri bicara atau ATM bicara (talking ATM). Ini dapat mempermudah kaum tunanetra mengakses uang secara mandiri di berbagai tempat atau di titik-titik yang sering dikunjungi oleh tunanetra.

Pada prinsipnya, ATM bicara sama dengan ATM pada umumnya. Perbedaan ada pada fitur-fiturnya, antara lain: tombol huruf atau angka braille dan head set untuk mendengar suara perintah penggunaan mesin ATM. Sementara itu, kode PIN sesuai standar seperti pada umumnya.

Sejatinya, dengan adanya ATM bicara, penyandang tunanetra akan sangat terbantu dan bisa jadi lebih mandiri dalam melakukan transaksi perbankan. Namun sayangnya, jumlah mesin ATM bicara ini masih sangat sedikit. Tidak sebanding dengan banyaknya jumlah tunanetra yang membutuhkannya.

Saya sendiri sejak menjadi tunanetra, belum pernah mencoba ATM tersebut. Saya bahkan tidak mengetahui di mana saja keberadaan ATM bicara itu. Saya rasa, selain karena jumlahnya yang masih sangat terbatas, sosialisasi mengenai ATM bicara ini juga masih kurang. Pihak Kemensos dan bank-bank sudah berkomitmen untuk menyediakan ATM bicara. Selanjutnya, perlu secara kontinyu melakukan sosialisasi ke lembagalembaga disabilitas dan sekolah luar biasa untuk tunanetra (SLB A) yang ada di kota-kota besar maupun di daerah. Sosialisasi ini untuk mengajari cara penggunaan ATM bicara serta menginformasikan lokasi keberadaannya secara daring maupun luring.

Berdasarkan pengalaman pribadi, bukan hanya tunanetra yang tinggal di kota kecil seperti saya saja yang kurang mendapatkan informasi serta mengalami kesulitan terkait perbankan. Teman-teman tunanetra yang tinggal di kota-kota besar pun masih banyak yang tidak mendapatkan informasi terkait ATM bicara.

Di satu sisi, sebagai tunanetra, saya tak bisa bergantung terus pada orang-orang terdekat. Tapi di sisi lain, layanan perbankan untuk tunanetra pun belum maksimal. Padahal saat ini jumlah penyandang tunanetra di Indonesia mencapai tiga juta orang lebih. Mungkin jumlahnya akan terus bertambah, mengingat jumlah penduduk lanjut usia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi ditambah dengan jumlah korban kecelakaan, korban bencana alam, dan sebagainya.

Terkait masalah diatas, kini berkat adanya teknologi untuk tunanetra, kesempatan tunanetra untuk memperoleh pekerjaan semakin terbuka lebar. Banyak dari mereka yang mendapatkan penghasilan tinggi, bisa hidup layak dan mandiri.

Oleh karena itu, mereka membutuhkan fasilitas perbankan yang mudah di akses dan aman guna mendukung kemandiriannya dalam melakukan berbagai transaksi perbankan. Misalnya untuk menyimpan uang, transfer, penarikan tunai, dan sebagainya.

Jadi, apabila bank bisa memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, layaknya orang-orang pada umumnya, bukankah pihak bank juga bisa mendapatkan keuntungan?

Selain bisa mendapatkan lebih banyak nasabah, bukankah hal ini juga bisa meningkatkan kredibilitas dan reputasi bank tersebut di mata publik?

Daripada menyulitkan para penyandang disabilitas pada umumnya, dan tunanetra pada khususnya, dalam mengakses layanan perbankan, mengapa bank-bank itu tidak berlomba-lomba untuk memfasilitasi layanan perbankan yang lebih mudah, ramah, dan aman bagi para penyandang disabilitas di Indonesia?

* Karya ini berasal dari buku “Melihat Dengan Hati: Sketsa Cerita 13 Tunanetra” yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 2018. Buku ini merupakan kumpulan tulisan tunanetra yang mengikuti Workshop Menulis Kreatif yang diadakan OJK bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *