PROVOKATOR*

Karya : Aris Yohanes Elean

Matahari memanjat semakin tinggi. Semilir angin berembus menggoyang dedaunan, mengantarkan aroma lembap sisa embun. Aku duduk pada sebatang kayu kering di bawah pohon rambutan yang tengah berbunga. Ditemani riuh kicau burung, suara para pejalan kaki, dan lenguh hewan-hewan ternak.

Di depanku sana, terhampar hijaunya sawah penduduk desa yang akan berubah fungsi menjadi kebun jagung jika musim kemarau tiba. Di sisinya ada aliran sungai kecil yang akan kering jika musim penghujan telah berganti.

Ngapus, begitulah orang-orang menyebut desa tempatku lahir dan dibesarkan ini. Bukan desa yang makmur memang, bahkan bisa dikatakan ‘agak tertinggal’. Namun masyarakatnya yang ramah dan penuh kekeluargaan, menjadi nilai tersendiri bagi desaku.

Pada dasarnya sebagian besar penduduk desaku adalah petani dan pedagang. Tetapi jika musim kemarau tiba, banyak di antara pemuda desa pergi ke kota untuk mencari pekerjaan tambahan sebagai kuli bangunan. Maklumlah, kondisi perekonomian desaku tidaklah bagus. Selain itu, kondisi tanah yang lebih didominasi oleh batuan kapur, semakin menyulitkan mereka yang pekerjaan utamanya sebagai petani. Sehingga, hasil bercocok tanam yang dapat dijual ke kota untuk menunjang perekonomian keluarga, tidaklah banyak.

Walau tidak menjanjikan kemakmuran bagi warga desa, namun aku tetap betah tinggal di sini. Bagiku, desaku adalah tambatan hatiku. Karena, di desa inilah aku menemukan bahagiaku. Seperti sekarang, saat aku bergegas pergi ke pinggiran hutan kecil di sebelah utara, untuk membantu kakek yang sedang mencari rumput bagi pakan ternak.

“Kek, mengapa kakek memotong dahan pohon itu? Bukankah itu pohon yang kayunya tidak boleh kita ambil, Kek?” tanyaku saat melihat kakek malah sibuk memotong dahan-dahan pohon yang rimbun.

“Ya habis gimana lagi, Le …. Kakek tidak mendapatkan kayu kering untuk perapian di dapur kita nanti. Semua kayu kering sudah habis diambil yang lain.”

“Lalu bagaimana dengan rumput untuk pakan kambing-kambing kita, Kek?”
“Oh itu Le. Ada di bawah pohon jati. Tolong kamu masukkan dalam karung dan coba kamu cari lagi rumput tambahan untuk kita jual ke Pak Dharmo.”

Aku mengangguk dan segera menuju ke tempat yang ditunjuk kakek.

“Wah, banyak juga rumput yang kakek dapat”, gumamku dalam hati seraya memasukkan semuanya ke dalam karung.

Saat aku akan mencari rumput seperti permintaan kakek, dari kejauhan kakek menyeru. “Le! Jangan ke tengah hutan itu! Di sana tidak boleh dijamah orang. Ada penunggunya.”

Aku tersenyum mendengar seruan kakek. Siapa juga yang berani ke sana. Konon, menurut desas-desus warga desa, di tengah hutan terdapat sebuah pohon beringin tua yang angker. Jika ada orang yang berani mendekati pohon itu, nanti penunggunya akan marah dan merasuki mereka. Cuma mereka yang butuh kesaktian yang berani datang ke sana untuk memohon sesuatu.

“Sudahi saja Le, acara mencari rumputnya. Kita pulang ke rumah sekarang. Nenekmu pasti sudah ndak sabar menanti kita,” kata Kakek saat berjalan menghampiriku.

Aku pun menurut. Kusudahi kegiatanku dan mengekor kakek pulang.

Ketika kami tiba di dekat balai desa, ramai orang berkumpul.

“Ada apa tho ini?” tanya kakek pada salah seorang di antara kerumunan.

“Ada yang kehilangan lagi, Mbah,” jawab bapak-bapak paruh baya itu.

“Kehilangan lagi? Kehilangan uang?” tanyaku.

“Betul, Nak. Bahkan bukan hanya uang saja. Kalung dan perhiasan emas juga,” jelas orang itu lagi.

“Siapa yang kehilangan?” tanya kakek lagi.

“Pak Dharmo, Mbah. Orangnya jadi stres sekarang karena seluruh uang dan perhiasan istrinya hilang.”

“Pak Dharmo?” seruku dan kakek bersamaan. Kami saling pandang.

Menurut kabar yang kami terima, kehilangan Pak Dharmo terjadi begitu tiba-tiba. Ia baru sadar ketika hendak membayar sayur mayur yang dijual warga kepadanya. Meski sudah diobrak-abrik ke sana-ke mari, tetap saja harta Pak Dharmo lenyap tak bersisa.

Aku dan kakek pulang dengan gontai. Sia-sia sudah rumput kambing yang kuambil tadi. Dan rasanya, akan sia-sia juga ketenangan di desa ini. Apa artinya kicau burung di pucuk-pucuk pohon pagi hari? Apa gunanya gemericik aliran sungai di musim penghujan? Apa khasiat aroma lembap sisa embun pagi jika terkotori oleh hal-hal meresahkan semacam ini?

Lepas magrib, Pak Kades mengumpulkan warga di Balai Desa.

“Sudah berapa kali hal ini terjadi?” tanyanya.

“Sudah sering pak!” jawab warga kompak.

“Sudah berapa warga yang kehilangan?”

“Sudah lebih dari 20 orang, Pak!” teriak mereka. Aku di barisan belakang terenyak seketika. Ternyata banyak juga. Ke mana saja aku sampai tidak tahu?

“Setiap rumah yang mengalami kehilangan, tidak ada jejak yang berarti, Pak. Pintu, jendela, bahkan atap, tidak ada yangrusak karena dicongkel,” ujar salah satu warga yang mengaku sebagai korban.

“Betul, Pak! Bahkan jejak kaki si pencuri pun tidak tampak,” kata yang lain menimpali.

Pak Kades dan seluruh warga semakin bingung. Karena tidak mungkin semua barang itu bisa hilang begitu saja. Semua terdiam, mencoba mengira-ngira siapa sebenarnya pelaku pencurian itu. Aku dan kakek pun ikut merenung, menghadirkan kembali siluet-siluet penduduk desa yang tersimpan rapi dalam benak kami. Mencoba menganalisa wajah-wajah polos yang terlukis di benak.

Aku berhenti pada siluet terakhir. Namun sepertinya bukan dia. Aku tak merasa ada yang ganjil dari wajahnya. Hingga tahu-tahu, berteriaklah salah seorang hadirin mengalihkan pikiranku.

“Sebenarnya saya sudah lama menaruh curiga pada seseorang di desa kita, Pak! Gerak-geriknya sangat mencurigakan,” katanya.

“Siapakah orang yang Pak Didik maksud itu?” tanya Pak Kades.

“Mbah Legiman, Pak. Bahkan saya curiga, dalang dari semua ini juga termasuk orang-orang seisi rumahnya!”
Aku merasa ada halilintar yang baru saja menyambar kepalaku. Mbah Legiman? Kakekku? Dan seisi rumahnya?
Maksudnya aku dan nenekku? Keparatttt.

Pandangan seisi desa lantas tertuju pada kami. Namun Pak Kades cepat menenangkan. “Apakah sudah ada buktinya, Pak Didik? Kita tidak bisa mencurigai orang begitu saja tanpa bukti yang kuat!”

“Saya yakin! Kita semua, para penduduk desa, sudah sangat paham jika hutan di sebelah utara desa ini merupakan hutan terlarang dan terkenal angker. Hanya orang-orang yang berniat mencari pesugihan dan kesaktian saja yang berani masuk ke hutan itu untuk mendapat pegangan berupa tuyul ataupun jin. Nah, mbah Legiman bersama Si Yudhi cucunya itu, setiap hari pergi ke hutan sana itu. Bahkan terkadang pada malam Jumat pun pergi ke sana!” kata Pak Didik berapi-api.

“Jangan asal, Pak. Pergi ke hutan bisa saja tidak untuk mencari pesugihan bukan? Siapa tahu mereka pergi untuk mencari rumput atau kayu bakar,” Bu Rukmini, tetanggaku, mencoba membela dengan menyampaikan pendapat yang logis.

“Betul, Pak! Kami tidak seperti apa yang Pak Didik tuduhkan itu! Lagi pula, bukan hanya kami yang sering masuk ke hutan itu!” teriakku tak bisa menahan emosi.

“Alaaaaah …. Kalian jangan coba membela diri di sini! Sudah pasti kalianlah pelakunya! Pak Kades, kalau mau keadilan
tegak di desa kita, jangan coba-coba membela mereka. Bukan hanya saya yang pernah melihat mereka ke hutan itu malammalam. Yang lain juga pernah! Dan setiap Mbah Legiman ke sana, di desa kita pasti terjadi kehilangan!”

Warga desa mulai kasak-kusuk tak tenang. Hasutan Pak Didik rupanya mulai menimbulkan ketidakpercayaan di antara
mereka.

“Ya, betul Pak Kades. Beberapa hari lalu saya lihat Mbah Legiman ke hutan bersama Yudhi. Dan setelahnya terjadi
kehilangan di rumah Pak Suyoto!”

Hah? Apa katanya? Beberapa hari lalu aku dan kakek memang ke arah hutan. Tapi itu pun untuk mencari kayu bakar
permintaan Pak Dharmo.

Belum sempat aku membuka mulut, teriakan-teriakan warga lebih dulu menyela. “Betul, Pak! Mereka pelakunya!” ujar
mereka bersahutan.

“Ayo usir mereka! Jangan beri tempat lagi bagi mereka pada desa kita! Usir! Usir! Usir!” Seru warga desa berapi-api
seraya melempari kami dengan batu dan benda apa saja yang ditemui.

Tubuhku bagaikan terisap pusaran air. Jiwaku seperti ingin melayang, tercekik tangan-tangan tak kasat mata. Namun,
rontaan tubuhku tak juga membebaskannya. Demi Tuhan, aku tak mampu lagi melawan desakan penduduk desa yang murka.
Begitu amukan massa mereda, Pak Kades meminta kami angkat kaki demi ketenangan desa. Meski sebenarnya aku tahu,
ia pun berat untuk melakukan pengusiran ini.

Mau bagaimana lagi. Aku, kakek, dan nenek, terpaksa pergi dari desa yang kami cintai dengan langkah terseok-seok.
“Kek, aku benci pada penduduk desa Ngapus! Kita tidak bersalah, tetapi kenapa harus tersingkir dengan cara seperti ini?
Tuyul, jin, ilmu sakti, apa-apaan itu! Mengapa mereka meyakini hal-hal yang semacam itu?” kataku geram.

Kakek menepuk pundakku. “Sing sabar, Le. Tuhan tidak tidur. Jangan kamu simpan kebencian itu pada mereka. Mereka hanya penduduk desa yang tingkat pengetahuannya terbatas. Kakek yakin, suatu saat nanti, mereka akan sadar dan kembali
merindukan kehadiran kita.” “Tapi Kek, di zaman sekarang ini bukankah sudah ada televisi, radio, dan media lain? Semua itu sudah mulai masuk ke desa kita kan, Kek? Tapi kenapa ….”

“Ya … barang-barang yang kamu sebutkan itu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja, bukan? Listrik saja masih belum
merata masuk desa. Siang saja masih mati. Lantas bagaimana pengetahuan itu bisa tersalurkan secara merata?”

Aku mendengus kesal. Kakek ada benarnya. Jadi percuma juga kalau aku masih mendebat.

Setelah beberapa jam kami berjalan, kami tiba di wilayah kecamatan. Di sini, rumah-rumah, pertokoan, sudah tampak lebih maju. Bahkan, kami juga melihat keberadaan cabang bank pemerintah.

“Apa kakek punya uang di sana?” tanyaku saat kami beristirahat di sebuah warung.

“Hahaha. Jangankan uang di bank, uang di kantung celana saja tidak punya, Le …,” canda kakekku.

Hatiku teriris mendengarnya. Andai tadi kami berhasil menjual rumput ke Pak Dharmo, pasti kakek punya uang lebih
di kantung celananya sekarang. Siapa tahu jumlahnya cukup untuk disetor ke bank, bukan?

“Sudahlah, Yud. Jangan ingat-ingat lagi yang telah lalu,” kata kakek seolah paham isi kepalaku.

“Kek, kenapa warga desa kita tidak datang ke kecamatan untuk menyimpan uang mereka di bank itu. Bukankah itu lebih
aman? Apa Kakek pernah mendengar ada bank yang kehilangan uang karena tuyul atau jin atau … babi ngepet?”

Kakek terkekeh. “Ada-ada saja kamu, Le…. Ya ndak pernah ada ceritanya bank kehilangan uang karena hal mistis begitu. Tetapi memang masih banyak penduduk desa kita yang merasa lebih aman menyimpan uang atau barang berharga lain
di bawah kasur, di lemari, di balik lipatan songkok, bahkan di dalam kentongan,” terang kakek.

Aku terdiam. Meresapi ucapan kakek, meresapi nasib kami malam ini.

“Di mana kita tidur malam ini, Kek?” tanyaku pada Kakek yang terlihat lapar.

“Yuk, kita lanjutkan berjalan sedikit lagi,” kata kakek
berdiri seraya memapah nenek.

Kaki-kaki kami terus melangkah. Peluh menetes bagai air di sumber mata air. Hingga matahari kembali keluar dari
peraduannya, kami terus mencari tempat yang tepat buat kami menyusun kembali kepingan harapan dan harga diri kami

* Karya ini berasal dari buku “Melihat Dengan Hati: Sketsa Cerita 13 Tunanetra” yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 2018. Buku ini merupakan kumpulan tulisan tunanetra yang mengikuti Workshop Menulis Kreatif yang diadakan OJK bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *