TABUNGAN MIRA*

Karya : Mariana Messah

“Rajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya,” begitu kata ibu Mira yang juga sering disampaikan ibu guru di sekolahnya, SD SLB-A.

SLB-A bukanlah nama sekolah Mira. Melainkan kategori sekolah yang berarti Sekolah Luar Biasa Bagian A. Sekolah yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak tunanetra, sesuai dua jenis ketunanetraannya. Yaitu mereka yang masih bisa menggunakan indra penglihatannya dalam batas tertentu (low vision) dan mereka yang indra penglihatannya tidak dapat berfungsi sama sekali (totally blind).

Terlahir sebagai totally blind, tidak menghentikan semangat Mira bersekolah. Bahkan keinginannya itu didukung penuh oleh kedua orang tuanya. Setiap pagi, ibunya tak kalah semangat mengantar jemput Mira ke sekolah.

Mira senang bisa bersekolah. Ia punya banyak teman, ia belajar baca tulis dengan huruf Braille, ia juga belajar berbagai
pelajaran lain di bawah bimbingan guru-gurunya yang sabar. Mira tak pernah sabar menanti jam istirahat tiba. Sebab ia bisa bermain perosotan, ayunan, dan beragam permainan lain yang ada di sekolah.

Seperti sekolah pada umumnya, Mira pun tak luput dari yang namanya PR. Kala itu, tugas yang diberikan membahas soal menabung.

“Menabung itu apa sih, Bu?” tanya Mira kepada ibunya.

“Menabung itu, menyisihkan sebagian uang yang ada pada kita untuk disimpan. Tidak dihabiskan semua. Sehingga nanti kalau benar-benar diperlukan kita bisa memakainya,” jawab Ibu.

“Oooh, begitu ya Bu …. Kalau Mira rajin menabung, lama-lama uangnya bisa banyak terkumpul, ya? Dan kalau sudah banyak, bisa dipakai membeli apa saja yang Mira mau? Gitu?” tanya gadis kecil itu lagi. Sementara tangannya sibuk menyalin pepatah berbunyi ‘rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya’ yang sudah tak asing ditelinganya itu.

“Tentu saja, Mira. Kamu memang anak ibu yang pandai,” ujar Ibu tersenyum lembut.

“Ibu, Ibu tahu nggak? Kata Bu Guru, pepatah ini artinya kalau kita mau pandai harus rajin belajar. Dan kalau mau jadi orang kaya, sedari kecil harus suka menabung,” gumamnya.

Ibu kembali tersenyum. “Iya, Ibu tahu. Sebentar lagi kamu coba buat belajar menabung, ya.”

“Asyiiikkk …,” Mira bersorak kegirangan.

*

Esoknya, sepulang dari pasar, ibu membelikan Mira celengan berbentuk ayam jago yang terbuat dari tanah liat. Mira yang baru mendapati celengan baru itu sepulang sekolah, merasa senang bukan kepalang. Hari demi hari si ayam jago itu pun tak pernah lupa ia ‘beri makan’. Berupa segenggam uang, hasil Mira menyisihkan uang jajannya.

Sekalipun semakin berat, Mira tak pernah absen membawa celengan itu pergi. Ia tunjukkan dengan bangga ‘ayam peliharaannya’ itu kepada ayah, ibu, saudara, dan teman-teman mainnya dengan bangga.

Hingga pada suatu siang sepulang sekolah, seperti biasa Mira menarik kursi belajarnya untuk bersiap mengerjakan pekerjaan rumah. Namun tiba-tiba ….

-PRAKKK!-

Terdengar suara benda jatuh. Mira terkejut dan merabaraba lokasi ayam jagonya berada.

“Yah …,” lirih Mira sedih.

Ia tersadar telah tanpa sengaja menyenggol celengan ayam jago kesayangannya itu. Mira pun menangis tersedu. Ia berjongkok dan pelan-pelan mengumpulkan tumpukan uang di antara kepingan-kepingan celengan ayam jagonya yang pecah berantakan di lantai. Ibu yang mendengar keributan, bergegas menghampiri untuk membantu Mira mengumpulkan uangnya sekaligus membersihan pecahan celengan.

Tak ingin Mira bersedih lama-lama, ibu kembali membelikan Mira celengan baru. Kali ini, celengan terbuat dari bahan kaleng yang berbentuk tabung dengan lubang di atas tutupnya. Walau terbuat dari bekas kaleng susu, celengan itu tetap cantik berkat cat warna-warni pada motif bunga yang menghiasinya.

Seiring waktu, celengan kaleng Mira tak muat lagi. Ia mulai menambah celengan baru berbahan plastik. Ada yang berbentuk sapi, paus, hingga rumah-rumahan lengkap dengan gemboknya. Mira sudah berandai-andai akan dipakai apa uang dalam masing-masing celengan itu kelak.

Beranjak remaja, jerih payah Mira menabung mulai terasa manfaatnya. Berbagai koleksi barang seperti MP3 player, flashdisk, hingga CD-CD lagu penyanyi kesayangannya dibeli dengan uang hasil menabung. Mira bangga sekali dan bertekad untuk tetap rajin menabung sampai dewasa.

Merasa tekad baik Mira perlu dukungan lebih, ayah Mira membuka sebuah rekening bank atas namanya. Tujuannya agar Mira bisa memindahkan uang dari celengan ke bank agar aman dan bisa ditarik sewaktu-waktu.

Tiba di rumah, ayah Mira menunjukkan buku tabungan dan kartu debit yang dapat digunakan untuk di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) kepada Mira. “Kamu bisa bertransaksi lebih aman dengan ini. Dan dua benda ini harus kamu simpan baik-baik. Investasimu ada di sini,” kata Ayah memperkenalkan Mira untuk pertama kalinya dengan dunia perbankan.

Usai menamatkan perkuliahan, Mira mulai mencari-cari pekerjaan. Dibantu ayah dan ibunya, Mira mendatangi berbagai bursa kerja dan mengirimkan setumpuk lamaran ke sana-ke sini. Hingga akhirnya, datanglah kesempatan yang diharapkan lewat telepon seorang karyawan Human Resource Departemen (HRD) dari sebuah perusahaan televisi untuk mengundang Mira wawancara kerja.

Setelah Mira dinyatakan lulus untuk menempati posisi operator telepon, sebuah masalah datang menghampiri. Gaji yang nanti Mira terima tak bisa ditransfer bila Mira tak punya rekening bank atas namanya sendiri. Sehingga, pergilah Mira ke bank untuk mengurus tabungan baru.

Diantar sang ayah, Mira tiba di sebuah bank yang ditunjuk perusahaannya. Akan tetapi, ia malah ditolak oleh petugas dengan alasan ia adalah seorang tunanetra. Mira dianggap akan mengalami kesulitan untuk membuat tanda tangan yang persis sama jika harus melakukan sebuah transaksi ke depannya.

Usai melalui perdebatan panjang, petugas bank itu akhirnya menyarankan Mira agar menandatangani surat di depan notaris. Tujuannya untuk menyatakan bahwa Mira adalah seorang tunanetra yang hendak menabung di bank atas keinginannya sendiri. Pihak bank tidak akan bertanggung jawab jika di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diharapkan atas isi rekening Mira di bank.

Tentu saja Mira dan ayahnya menolak isi perjanjian semacam itu. Keduanya memohon agar dapat dipertemukan dengan kepala cabang dari bank tersebut sehingga bisa diambil langkah yang lebih bijaksana.

Pertemuan pun terjadi dan masalah ini bisa diselesaikan dengan lebih baik. Mira bisa membuka rekening, mendapat kartu ATM, sekaligus mengaktifkan m-banking tanpa harus membuat surat perjanjian apapun dengan notaris terkait rekeningnya. Senangnya hati Mira. Sekarang ia memiliki rekening bank sendiri dan terus bisa menabung sesuka hati.

* Karya ini berasal dari buku “Melihat Dengan Hati: Sketsa Cerita 13 Tunanetra” yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 2018. Buku ini merupakan kumpulan tulisan tunanetra yang mengikuti Workshop Menulis Kreatif yang diadakan OJK bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra.