PANDOWO SUMADIO*

Karya : Windra

Pagi cerah, angin berembus dari segala arah. Membawa tembang kesejukan, bagi para petani yang tengah berjibaku dengan lumpur dan padi di ladang masing-masing. Para pedagang sudah sibuk di pasar melayani pembeli. Para pembeli tak mau kalah sibuk menawar harga mati. Sementara itu di pendopo agung kerajaan Ngamarta, para abdi sibuk mempersiapkan kedatangan dua orang tamu agung.

Adalah Prabu Kresna dan Raden Sentiaki yang berkunjung memenuhi undangan Prabu Punta Dewa dan para Pandawa. Keduanya disambut meriah, duduk di kursi mewah, dan dijamu hidangan-hidangan lezat buatan para emban. Hingga di tengah-tengah acara makan, Prabu Punta Dewa mengutarakan niatnya yang telah didukung para Pandawa.

“Wahai Kanda Prabu Kresna. Bila nanti aku kalah dalam permainan dadu di Negara Hastinapura, akan kutitipkan hewan ternakku pada Kanda Prabu agar bisa Kanda kelola di Negara Duwarawati,” ujar Prabu Punta Dewa.

Ia dan para Pandawa bukan tak tahu soal kelicikan para Kurawa yang akan menjadi lawan mainnya dalam permainan itu. Justru karena ia tahu, ia memilih mempersiapkan kekalahan dengan harapan hewan ternak itu bisa menjadi bekal bila perang Baratayuda harus terjadi.

Prabu Kresna menyambut ide sepupunya itu dengan senang hati. Sebab sudah lama ia sebenarnya memiliki pemikiran demikian. Para Kurawa adalah orang-orang yang sangat licik dan selalu berusaha mematikan para Pandawa. Belum pernah mereka kehabisan akal untuk menghancurkan para Pandawa sebelum perang Baratayuda terjadi.

“Perlu Kanda ketahui bahwa hewan ternak ini hanya dapat digunakan untuk membajak ladang atau sawah para petani Negara Duwarawati. Tidak boleh ada yang memperjualbelikannya secara bebas,” pesan Prabu Punta Dewa.

Prabu Kresna mengangguk paham. “Baik, Dinda Prabu. Akan Kanda ingat baik-baik pesan Dinda,” ujar Prabu Kresna sebelum undur diri.

*

Hastinapura ternyata mampu membuat seorang Prabu Punta Dewa terkesima. Pada alun-alunnya, ada banyak patung berlapis emas. Ada taman-taman hijau berumput segar, ada pula kolam luas berair sebening kaca dengan beragam ikan di dalamnya.

Pendopo agung Hastinapura lebih meriah lagi. Setiap sudutnya berlapis emas murni. Begitu pula atap dan tiang penyangganya. Membuat pendopo jika malam bersinar bak matahari di siang hari. Dan bila siang ia menggandakan silau matahari yang sedang menyinari. Beragam bunga warna-warni yang mengitari bangunan menguarkan harumnya. Enak dipandang, enak pula dihirup. Sementara air mancur menyembul dari tengah kolam. Menyemburkan airnya yang dingin.

Para Kurawa sudah berkumpul menunggu para Pandawa. Turut serta pula Prabu Duryudana, raja Hastinapura, di atas singgasana emasnya. Di depannya ada Patih Sengkuni, tengah menatap tajam para Pandawa yang akan ditantang keponakannya itu.

Usai sajian yang dihidangkan habis tersantap, Prabu Duryudana bertanya kepada Prabu Punta Dewa. “Apakah Dinda Prabu sudah siap ditantang bermain dadu?”

Prabu Punta Dewa tersenyum. “Hamba sudah siap, Kanda.”

Sengkuni pun maju mengikuti suruhan Prabu Duryudana. Ia menyiapkan segala peralatan sebelum adu dadu dimulai.

Di babak pertama, Prabu Duryudana memasang kuda yang sangat gagah, kuat, lagi kencang larinya. Sementara Prabu Punta Dewa menancapkan keris berangka besi miliknya yang berlapis emas. Prabu Punta Dewa lalu menebak angka satu sebagai angka yang akan keluar pada dadu. Sementara Prabu Duryudana menebak angka dua lah yang akan keluar. Ketika Sengkuni mengocok dadu, tebakan Prabu Punta Dewa lah yang benar.

Memasuki babak kedua, taruhan semakin menjadi-jadi. Prabu Duryudana memasang kereta kencananya yang ditarik delapan ekor kuda besar sebagai taruhan. Ia menebak angka tigalah yang akan keluar. Sedangkan Prabu Punta Dewa menebak angka dua yang akan keluar. Sengkuni mengocok dadu, dan tebakan Prabu Duryudanalah yang benar.

Pada babak terakhir, para Kurawa mengajukan ide agar negara masing-masing prabu menjadi taruhan. Jika Prabu Duryudana kalah, maka Hastinapura akan menjadi milik Pandawa. Tetapi jika sebaliknya, maka Ngamarta akan menjadi milik Kurawa.

Prabu Punta Dewa terdiam sesaat. Lalu istrinya, Kurupadi, dan para Pandawa, mengingatkan Prabu Punta Dewa agar tidak mengikuti ajakan sesat para Kurawa. Namun Prabu Punta Dewa sudah tenggelam dalam lautan permainan. Apa yang dikatakan oleh para Pandawa dan istrinya itu tidak didengar lagi.

Prabu Duryudana mendapat giliran memilih angka terlebih dahulu. Tanpa sepengetahuan para Pandawa, Sengkuni diam-diam memberikan isyarat kepada Prabu Duryudana dengan mengedipkan mata dua kali. Itu adalah pertanda agar Prabu Duryudana memilih angka dua. Taktik licik untuk mengalahkan Prabu Punta Dewa yang kemudian memilih angka tiga.

Seperti rencana, Sengkuni sengaja mengeluarkan angka dua. Prabu Punta Dewa, para Pandawa, dan Kurupadi langsung lemas seketika. Darah seakan berhenti mengalir, jantung seperti berhenti berdetak. Di hadapan mereka, Kurawa bersorak-sorai merayakan kemenangan.

Pendopo agung Hastinapura seketika diliputi hiruk-pikuk. Di tengah-tengah pahitnya kekalahan itu, muncullah Resi Begawan Bisma yang datang untuk meminta keadilan. Sebagai kakek dari para Pandawa dan Kurawa, ia tahu kekisruhan ini terjadi akibat ulah Kurawa. Sehingga kepada Prabu Duryudana, ia meminta Ngamarta kembali bagaimanapun caranya.

“Bisa saja. Asal para Pandawa mau menjalani hukuman 12 tahun di dalam hutan dan satu tahun tambahan hukuman dalam persembunyian. Jika dalam masa persembunyian itu para Pandawa dapat ditemukan oleh para Kurawa, maka hukuman akan dimulai lagi dari awal.”

Sebagai ksatria yang tidak bisa bilang tidak, perjanjian itu disanggupi oleh para Pandawa.

Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun berganti. Para Pandawa berhasil melewati hukumannya tanpa kendala dan kini mereka tinggal di negara Wirata, dengan seorang raja bernama Prabu Maswapati.

Dua utusan dikirim ke Hastinapura untuk menagih janji Kurawa. Mereka adalah Prabu Sucitra dan Ratu Kunti. Namun sayang tak ada yang membuahkan hasil. Sehingga diberangkatkanlah utusan ketiga, yakni Prabu Kresna.

Di pendopo agung Wirata para Pandawa dan para sesepuh menanti cemas. Sudah seminggu Prabu Kresna pergi, ia belum kembali juga dari Hastinapura. Hingga tak lama, muncullah seorang pria hitam manis di atas kereta kencana membawa kabar.

“Kurawa berkeras tak ingin melepas Ngamarta. Jika memang kita benar-benar ingin Ngamarta kembali Perang Baratayuda harus terjadi,” ungkap Prabu Kresna.

Raut wajah Prabu Punta Dewa seketika berubah. Di kepalanya terbayang betapa mengerikannya perang yang harus terjadi ini.

“Kita memang tidak punya pilihan. Tetapi bukan berarti harus khawatir. Apa kalian lupa kalau kalian memiliki hewan ternak yang kalian investasikan ke Duwarawati? Jumlahnya kini pasti sudah mencapai puluhan ribu ekor. Cukup untuk bekal perang bagi kalian dan para prajurit. Sungguh apa yang kalian tabung dulu, akan terasa manfaatnya kini,” ujar Prabu Kresna berusaha menenangkan.

Pagi yang cerah, angin berembus dari segala arah. Rombongan Prabu Punta Dewa dan para Pandawa melangkah gagah menuju medan pertempuran. Diiringi kuda-kuda dan sejumlah hewan ternak, mereka maju. Merebut kembali Ngamarta, tanah para leluhur.

* Karya ini berasal dari buku “Melihat Dengan Hati: Sketsa Cerita 13 Tunanetra” yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 2018. Buku ini merupakan kumpulan tulisan tunanetra yang mengikuti Workshop Menulis Kreatif yang diadakan OJK bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *