SAHABAT ISTIMEWA*

Karya : Juwita Maulida

“True friendship comes when the silence between two people is comfortable”
-David Tyson Gentry

Setahun silam, tepatnya bulan Mei 2017, aku mengutip ka limat di atas untuk ditulis pada sebuah kartu ucapan ulang tahun sahabatku. Seorang sahabat spesial tentunya, yang saking spesialnya membuat teman-temanku lainnya bilang ia sukses menjangkitiku dengan sindrom ‘Dhanisentris’.

Betul, Dhani adalah nama sahabatku. Seringnya aku bercerita tentangnya ke semua orang terdekatku membuatku dijuluki begitu. Dan jangan pernah salah mengira kalau Dhani itu berjenis kelamin laki-laki. Dia adalah cewek tulen yang suka banget sama boneka. Meskipun bergaya tomboi sekali, hatinya sungguh lembut dan seputih salju.

Aku sudah cukup lama mengenal Dhani. Ia lebih akrab dipanggil ‘Dhani Jepang’ atau ‘Dhani Sensei’ di Yayasan Mitra Netra, komunitas tempatku aktif saat ini. Sebab, Dhani merupakan alumni sastra jepang Universitas Padjajaran yang kemudian sempat mengajar bahasa jepang di Mitra Netra.

Dulu, aku tak pernah tertarik mengenal sosoknya. Saat kami terlibat percakapan ringan di perpustakaan Mitra Netra, tempat favoritku untuk nongkrong membaca buku, aku mendapat kesan Dhani adalah orang yang jutek dan sombong. Malas rasanya kalau harus sok akrab dengannya. Tapi benar kata pepatah, bukan? Janganlah terlalu benci akan sesuatu, karena suatu saat malah berbalik menjadi benar-benar cinta.

Singkat cerita, empat tahun terlewati. Pertemuan-pertemuan pendek dengan Dhani kerap terjadi, namun tak satupun berakhir dengan percakapan ramah. Jangankan ramah, yang terkesan basa-basi sekalipun juga tak pernah terjadi di antara kami. Hingga suatu hari di bulan Oktober 2016, situasi berubah drastis. Aku mendadak akrab dengan Dhani. Kok bisa? Entahlah, akupun tidak tahu alasannya.

Mungkin, karena kami memiliki hobi yang sama, yaitu membaca buku. Aku mengetahuinya kala membantunya mengoperasikan sebuah aplikasi pembaca buku digital di smart phone miliknya. Lalu obrolan bergulir ke arah hobi membaca buku, lalu berlanjut pada penawaran melihat koleksi bukuku di lain hari. Ya, mungkin dari sanalah Dhani mendadak menduduki posisi sahabat yang penting di antara sahabat-sahabatku yang lain.

Setahun terakhir, ketika aku harus melalui masa-masa yang penting dalam hidup, Dhani menjadi teman diskusi yang aku butuhkan. Menghibur dengan caranya ketika aku sedang sedih. Bahkan menjadi seorang kakak yang memberi semangat dan nasihat berharga dalam pengambilan keputusanku. Dhani, tak ubahnya sahabat lama yang kembali dipertemukan ketika kami dewasa. Masa-masa di mana kita akan semakin sulit menemukan sahabat sejati seiring bertambahnya usia.

“Apa sebenarnya pekerjaan impianmu?” tanya Dhani suatu waktu ketika aku hampir lulus kuliah.

Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Selama ini, kukira aku selalu tahu apa yang kuinginkan dalam setiap fase hidupku. Hingga berhari-hari, pertanyaan Dhani terus mengusikku.

Demi mengetahui jawaban dari pertanyaan itu, aku sering mendiskusikan gambaran pekerjaan yang kami inginkan di setiap kesempatan. Dan sejak itu Dhani menjadi teman bicara yang menyenangkan untuk membahas berbagai topik. Tak hanya itu, kesamaan bidang pekerjaan yang kami ambil saat ini sebagai content writer di dunia digital marketing, membuat diskusi-diskusi kami semakin terarah.

Di sisi lain, aku mengagumi kemampuan Dhani dalam mengatur keuangan. Kebiasaannya hidup teratur menjadikannya sosok yang cukup bijak dalam mengelola uang dan rajin menabung. Sungguh aku tak akan menyatakan begitu jika tidak melihat sendiri hasil pencapaiannya. Belakangan ini, ia bahkan mulai menularkan kebiasaan mengelola uang itu kepadaku.

Ia memberi tahuku cara memanfaatkan rekening bank yang berbeda untuk menabung dan untuk bertransaksi secara rutin. Sedikit banyak, kebiasaan Dhani tersebut memperbaiki caraku mengelola keuangan.

Karena Dhani telah berbaik hati mengajarkan kebiasaan baik untuk menabung dan mengelola keuangan kepadaku, maka aku pun membagi sedikit pengalamanku tentang berinvestasi. Menyadari bahwa aku sukar menabung dengan cara yang biasa, selama ini aku memaksa diri untuk ‘menabung’ dengan cara berinvestasi logam mulia.

Dengan pengalaman yang jauh lebih banyak, aku mencoba memperkenalkan Dhani dengan berbagai cara investasi emas. Mulai dari mengikuti arisan, hingga menabung emas di Pegadaian. Selain itu, bentuk investasi lain seperti asuransi dana pensiun atau dana kesehatan juga menjadi topik obrolan di waktu tertentu.

Mau bagaimana lagi. Agar kenyamanan hari tua lebih terjamin, kita yang bekerja sebagai karyawan swasta atau freelancer memang dituntut untuk lebih terencana lagi berinvestasi emas atau asuransi.

Hingga menjelang tahun baru 2018, aku dan Dhani masih tetap melakukan hal-hal yang kami sukai bersama-sama. Mulai dari nonton film, membaca buku, hingga mendengarkan musik sekalipun genre yang kami sukai benar-benar bertolak belakang.

Baru pada April lalu, aku dan Dhani melakukan hal baru di luar kebiasaan kami. Ditemani keempat sahabat kami yang lain, kami melakukan perjalanan ke Belitung! Benar-benar pengalaman traveling yang tak terlupakan, sebab itu pertama kalinya kami, para tunanetra, merasakan snorkeling di Pulau Lengkuas.

Kami juga mengunjungi objek-objek wisata lain di sana. Seperti Museum Katadi daerah Belitung Timur, milik Andrea Hirata yang merupakan penulis favorit Dhani. Tak pernah aku merasakan perjalanan semenyenangkan itu semenjak menjadi tunanetra. Aku jadi ketagihan hobi lain Dhani itu dan tak sabar merencanakan perjalanan kami berikutnya.

Tak hanya jalan-jalan, Dhani juga hobi menulis dan telah menghasilkan beberapa karya. Lagi-lagi, ia menulariku untuk mau menulis. Suatu hari nanti, aku berharap kami bisa menulis dan menerbitkan buku kami bersama. Entah buku yang bercerita tentang pengalaman kami sebagai tunanetra yang traveling bersama, atau mungkin buku yang menuliskan sejarah persahabatan kami. Bukankah sangat membahagiakan, ketika kalian mempunyai pengalaman, rahasia, impian atau cita-cita yang bisa dibagikan bersama sahabatmu?

Dari berbagai pengalaman yang kualami bersama Dhani, hal-hal tak menyenangkan tentu ada. Pertengkaran, perdebatan, atau cekcok mulut kerap kali terjadi karena perbedaan pendapat. Tapi kami merasa itu wajar karena toh kami memang diciptakan Tuhan sebagai dua manusia yang berbeda. Dan kami selalu ingat bahwa di ujung setiap perselisihan harus segera saling memaafkan. Dengan begitu, persahabatan kami akan semakin kuat dan erat.

Dia pernah berkelakar menanggapi semua perbedaan di antara kami. “Kita harus mengakui kebesaran Tuhan, bukan? Karena Dia mampu melakukan banyak hal yang di luar batas pemikiran kita. Salah satunya adalah membuat kita bersahabat meskipun aku dan kamu amat sangat berbeda bagai langit dan bumi.”

“Ya! Tapi bagaimana pun juga, langit dan bumi juga bisa bersatu karena laut akan mempertemukan dan memeluk mereka di cakrawala. Coba lihat saja di pantai, pasti kayak begitu,” kata Dhani sok puitis yang membuatku geli sendiri.

Ada pepatah yang bilang kalau memiliki sahabat merupakan hal terbaik dalam hidup. Aku jelas setuju dengan pernyataan itu, karena dengan memiliki Dhani sebagai sahabat telah memberikan pengalaman terbaik dan berharga dalam hidupku.

Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku, Dhani! Selamat ulang tahun!

Jakarta, 24 Mei 2018

* Karya ini berasal dari buku “Melihat Dengan Hati: Sketsa Cerita 13 Tunanetra” yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 2018. Buku ini merupakan kumpulan tulisan tunanetra yang mengikuti Workshop Menulis Kreatif yang diadakan OJK bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra.