Hermanto, Temukan Kembali Semangat Hidup di Yayasan Mitra Netra

Foto Hermanto“Tidak ada kata terlambat untuk terus belajar”. Tampaknya kalimat ini sangat tepat untuk menggambarkan prjalanan hidup Hermanto. Terlahir dengan gangguan penglihatan yang terus menurun hingga di usia dewasa membuat Hermanto tak pernah merasakan pengalaman mengenyam bangku sekolah selama hidupnya. Namun, semangat laki-laki berusia 34 tahun ini tak pernah padam untuk terus belajar dan mengejar cita-citanya.

Meski mengalami gangguan penglihatan sejak lahir, Herman, begitu sapaan akrabnya, tidak pernah merasa berbeda dengan anak-anak sebayanya. Perlakuan dari orang tua, saudara dan kerabatnya yang wajar juga membuatnya selalu merasa hidupnya sama dengan semua orang. Hingga menginjak usia 7 tahun, Herman yang tinggal di Desa Sungai Nipa, Pontianak, saat itu menyadari sesuatu yang membuyarkan asanya untuk bersekolah seperti teman-temannya. Di usia yang mencukupi untuk masuk ke sekolah dasar, Herman justru ditolak oleh pihak sekolah. Sebab musababnya adalah Herman tidak mampu melihat tulisan di papan tulis meski pun dia sudah duduk di bangku paling depan . Maka, pihak sekolah menyatakan tidak dapat menerimanya karena tidak memiliki solusi untuk kendala yang dialaminya.

“melihat anak tetangga mendaftar sekolah , aku juga ingin sekolah. Tapi meski bisa membaca buku dalam jarak dekat, aku tidak bisa membaca tulisan di papan tulis. Jadi, akhirnya aku tidak jadi mendaftar sekolah”. Ungkap Herman mengenang masa kecilnya.

Di usia 9 tahun, tepat saat adiknya masuk sekolah dasar, Herman kembali ingin masuk sekolah. Tapi, lagi-lagi sekolah menolaknya dengan alasan yang sama. Hal inilah yang memunculkan pikiran bahwa dia berbeda dari anak-anak lainnya.

“dari situ, aku sadar berbeda dengan anak lain. Anak lain bisa melihat dan sekolah, sedangkan aku tidak bisa sekolah”. Kenang Herman.

Beruntung Herman memiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Perasaan sedih yang sempat menghinggapi hatinya karena tidak dapat bersekolah segera terlupakan. Anak ke-4 dari 6 bersaudara ini tetap bermain riang bersama teman-temannya, belajar membaca dan menulis bersama kakaknya di rumah dan mendengarkan radio atau menonton televisi sebagai rutinitasnya sehari-hari.

:Hobi atau kegiatan lain yang paling aku suka sejak kecil itu mendengarkan radio. Bahkan itu jadi rutinitas yang berlanjut saat aku sudah di Jakarta”. Cerita Herman penuh semangat.

Pada masa itu, Herman bercerita bahwa radio dan televisi merupakan sumber informasi yang dapat dia nikmati, karena belum ada gawai atau akses internet. Dari radio, pria yang lahir 27 Maret 1985 ini, bisa menikmati hiburan, mendengar informasi atau berita yang pada akhirnya memunculkan ketertarikannya pada hal-hal yang berbau politik.

Menginjak usia 17 tahun, Herman kembali diliputi perasaan galau dan sedih. Di kampung halamannya, Pontianak , Kalimantan Barat, teman-teman sebayanya telah menyelesaikan pendidikannya dan merantau ke luar daerah untuk mencari pekerjaan. Bahkan saudaranya juga telah merantau ke Jakarta. Tentu saja, Herman juga ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi, menilik kondisi penglihatannya yang semakin menurun, Herman berpikir mana mungkin dia dapat bekerja dan mencari uang. Padahal dia juga tidak pernah bersekolah dan tidak dapat melihat.

“aku harus gimana ya! Pengen juga seperti mereka yang merantau, kerja dan cari uang, tapi keadaan dengan penglihatan seperti ini, kok rasanya tidak mungkin, jadi bingun sendiri”. Ujarnya.

10 tahun berselang. Herman yang terus berkutat dengan perasaan galau, akhirnya memutuskan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Herman ingin mencari pengobatan di luar Pontianak. Harapan yang timbul di benaknya waktu itu hanya ingin sembuh. Pilihan dijatuhkan pada Jakarta. Karena mempunyai saudara di Jakarta dan merasa mungkin ada pengobatan yang lebih modern untuk penglihatannya.

Namun harapannya untuk sembuh kandas begitu saja. Saat tiba di Jakarta tahun 2013, dokter spesialis retina memberikan vonis bahwa Herman mengalami
Retinitis Pigmentosa. Penyebab Penglihatannya yang terus menurun dikarenakan adanya kelainan saraf retina mata yang tipis. Kondisi tersebut menyebabkan suplai darah dari jantung ke retina tidak tercukupi sehingga saraf retina akan mati secara perlahan. Menurut dokter belum ada metode yang mampu membuat saraf retina berregenerasi, sehingga penglihatan Herman tidak dapat diperbaiki. Akan tetapi, dari dokter tersebut pula, Herman mendapatkan semangat barunya. Dia disarankan untuk mencari sebuah yayasan yang dapat menerimanya sebagai tunanettra dan terus menjalani hidup dengan baik.

“dulu aku tidak terima dibilang buta, karena aku belum tahu istilah low vision. Tapi setelah dari dokter, aku akhirnya paham aku memang tunanetra. meski awalnya sedih, tapi aku mencoba menerimanya dan memotivasi diri sendiri untuk tidak larut”. Ungkapnya.

Setelah beberapa bulan mencari informasi tentang yayasan atau tempat belajar bagi tunanetra di Jakarta, hasilnya nihil. Muncul beberapa nama PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan SLB (Sekolah Luar Biasa). Namun ketika dihubungi, PKBM menyatakan belum siap menerima tunanetra, sedangkan SLB hanya menerima tunanetra di usia sekolah. Padahal Herman waktu itu telah berusia 28 tahun. Ketika semangatnya mulai padam, secercah harapan datang menyambutnya. Rutinitas mendengarkan radio yang dilakukan Herman sejak tinggal di Pontianak membawa sebuah informasi tentang yayasan bernama Mitra Netra.

Dari channel favoritnya dulu di Pontianak, yakni RRI pro 3, Herman mendengarkan program bertajuk “Tamu Kita”. Acara tersebut menghadirkan Irwan Dwi Kustanto yang merupakan wakil direktur eksekutif Yayasan Mitra Netra saat itu. Kontan, Herman segera menghubungi radio tersebut dan akhirnya berhasil mendapatkan kontak untuk menghubungi Irwan. Dari kontak tersebut, akhirnya Herman dapat berkunjung ke Mitra Netra dan mendaftarkan dirinya untuk mengikuti ujian kesetaraan paket A di tahun 2014.

Merasa telah menemukan kembali harapan hidupnya, Herman bersemangat mengikuti berbagai kegiatan di Mitra Netra. Mulai dari baca tulis braille, orientasi mobilitas, komputer bicara, dan english club. Herman juga selalu memanfaatkan layanan peminjaman buku di perpustakaan Mitra Netra untuk mengisi waktu luangnya di rumah. Laki-laki berdarah tionghoa ini juga menyatakan kekagumannya saat pertama kali datang ke Mitra Netra. Banyak klien tunanetra yang ditemuinya terlihat bahagia dan tidak berkeluh kesah. Padahal ketika Herman berada di rumah, dia selalu merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung dan aneh karena kondisinya yang berbeda dari kebanyakan orang.

“pas datang ke mitra Netra, ternyata hidupnya tunanetra itu happy-happy saja. Tidak ada yang sedih dan berkeluh kesah. Malah mereka bisa berkarya di sini”. Ujarnya sambil tertawa.

Kini setelah 5 tahun menjadi klien aktif Mitra Netra, Herman merasa menjadi individu yang bermakna. Banyak hal yang dulu bahkan tidak terbayang olehnya dapat dilakukan tunanetra, justru saat ini dia bisa melakukannya. Seperti membalas pesan di handphone sendiri, bepergian secara mandiri, membaca buku bahkan mengoperasikan komputer dan berseluncur di dunia maya. Tentu ini semua berkat program layanan rehabilitasi Mitra Netra.

“Banyak hal-hal yang awalnya aku berpikir tidak mungkin dilakukan oleh tunanetra, tapi ternyata di mitra Netra aku menemukan fakta yang lain”. Kata Herman mengakui.

Herman juga menuturkan bahwa ada peran besar Mitra Netra yang tidak pernah dia lupakan. Ketika Herman mengalami penolakan oleh PKBM saat mendaftarkan diri untuk ujian kesetaraan paket B. Mitra Netra melakukan upaya advokasi ke dinas pendidikan DKI Jakarta. Hasilnya, dinas pendidikan DKI Jakarta mengeluarkan surat edaaran yang mewajibkan setiaap PKBM untuk menerima peserta tunanetra agar dapat mengikuti ujian kesetaraan. Dengan demikian, Herman pun dapat mendaftarkan diri mengikuti ujian kejar paket B setara SMP di tahun 2017.

Banyak harapan yang saat ini bertumpuk di hati Herman yang menunggu untuk diwujudkan. Herman ingin lulus ujian kesetaraan paket C di tahun 2020, kemudian melanjutkan ke bangku kuliah. Selain memiliki cita-cita menjadi pengusaha, ketertarikannya di dunia politik juga membuatnya ingin menjadi seorang birokrat kelak jika memiliki kesempatan. Saat dia meraih sukses, Herman akan selalu ingat peran Mitra Netra.

“tentu saja Mitra Netra punya andil besar dalam memajukan kehidupan tunanetra, tak terkecuali aku. Kelak jika aku sudah sukses aku akan membantu Mitra Netra, berbagi rezeki dan ilmu untuk tunanetra. yang penting jadi orang yang bermanfaat”. Ungkapnya dengan yakin.

Begitu besar peran Mitra Netra dalam perjalanan hidupnya sehingga Herman mempunyai harapan besar untuk Yayasan Mitra Netra di masa yang akan datang. Herman berharap Mitra Netra semakin besar, semakin berjaya dan dapat melakukan sesuatu yang lebih luas lagi untuk tunanetra di seluruh Indonesia.**

Juwita Maulida