“Bunyikan Lonceng” untuk Pemenuhan Hak Pendidikan bagi Anak-anak Penyandang Disabilitas

Mengulang sukses di Maret 2018 yang lalu, Yayasan Mitra Netra kembali melaksanakan kampanye “We Ring The Bell”. Bertempat di saung Mitra Netra, kampanye publik ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 15 maret 2019. Dihadiri sekitar 50 orang mitra dampingan, orrang tua dan masyarakat sekitar, kampanye yang ditandai dengan membunyikan berbagai macam alat musik dan peluit ini dilaksanakan dengan sangat antusias. Tepat pukul 14.00 WIB, Bambang Basuki, ketua pengurus Yayasan Mitra Netra, memberikan sambutan singkatnya.

“Kita di sini berkumpul untuk merayakan dan mensyukuri bahwa anak-anak penyandang disabilitas bisa mendapatkan pendidikan, sekaligus mengingatkan diri kita juga bahwa masih banyak anak-anak penyandang disabilitas yang lain di pelosok daerah yang juga belum mendapatkan haknya untuk bersekolah” ujarnya saat memulai acara.

Saat ketua pengurus Mitra Netra membuka acara dengan meniupkan pluitnya, serentak seluruh peserta menyambut dengan membunyikan berbagai instrumen seperti peluit, alat musik tradisional angklung, gitar, dan drum. Lonceng atau instrumen yang dibunyikan selama 1 menit penuh ini dimaknai sebagai perayaan bahwa anak-anak penyandang disabilitas bisa menikmati pendidikan. Pada saat bersamaan, anak-anak juga mengetahui bahwa ada anak-anak penyandang disabilitas di daerah atau negara berkembang lain belum menikmati pendidikan seperti yang mereka rasakan. Setelah dibunyikan selama 1 menit penuh, para peserta bersama-sama menyanyikan lagu “laskar Pelangi” yang merupakan salah satu soundtrack film Laskar Pelangi yang dipopulerkan oleh group band Niji. Acara yang berlangsung selama 90 menit ini ditutup dengan bermain musik dan menyanyikan lagu dengan penuh keceriaan.

kampanye hak pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas ini telah memasuki tahun ke-8. Kegiatan ini diprakarsai oleh Lilian foundation sejak tahun 2012. Sebagai partner dari Lilian Foundation, Mitra Netra juga mengajak para peserta untuk menandatangangi manifesto atau (pernyataan sikap) di sebuah spanduk berukuran besar. Tanda tangan ini merupakan bentuk dukungan bagi terpenuhinya hak-hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan pendidikan inklusif. Hasil tanda tangan dan rekaman video saat kampanye berlangsung akan diunggah di media sosial dengan disertai caption “semua anak diterima di sekolah termasuk anak-anak penyandang disabilitas” dan tagar #ringthebell. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia terutama para pemangku kebijakan, pemerintah, organisasi, sekolah, guru, orang tua dan seluruh masyarakat agar menyadari akan pentingnya memenuhi hak pendidikan bagi semua anak-anak penyandang disabilitas.*

Juwita Maulida