Peer Teaching, Bentuk Partisipasi Relawan Tunanetra dalam Layanan Pendampingan Belajar

belajar braille bersama EsaMitra Netra merupakan organisasi nirlaba penyedia layanan pendampingan bagi tunanetra, salah satunya di bidang pendidikan. Ada pun layanan yang konsisten diberikan oleh Mitra Netra adalah pendampingan belajar. Banyaknya mitra dampingan yang ada di Mitra Netra, mulai dari usia sekolah dasar hingga mahasiswa, membuat permintaan layanan pendampingan belajar terus berdatangan. Oleh sebab itu, mitra Netra terus berupaya untuk memberikan layanan pendampingan belajar secara optimal. Salah satunya adalah memfasilitasi keterlibatan para mitra dampingan yang berinisiatif menjadi relawan pengajar bagi sesama teman-teman tunanetranya.

Kegiatan pendampingan belajar yang dilakukan oleh relawan tunanetra ini disebut dengan peer teaching atau metode belajar dengan sesama teman. Dalam hal ini, sesama teman berarti sesama mitra dampingan. di tahun 2013, peer teaching ini dilaksanakan oleh 4 orang relawan tunanetra yang berstatus mahasiswa atau telah lulus kuliah. Sedangkan mitra dampingan yang diberikan tutorial adalah tunanetra yang akan mengikuti program ujian kesetaraan (kejar paket).

Hingga saat ini, di Mitra Netra kegiatan peer teaching ini terus berjalan. Abizard Giffari adalah salah satu relawan peer teaching yang aktif mengajar mata pelajaran matematika sejak tahun 2016.

“motivasi ikut peer teaching ini karena memang suka mengajar dan ingin berbagi dengan teman-teman tunanetra di Mitra netra juga.” Ungkap Giffari.

Ingin berbagi memang kata yang tepat untuk menggambarkan alasan semua para relawan peer teaching di Mitra Netra. Pernah merasakan pendidikan dan bersekolah, ternyata membuat para mitra dampingan yang lebih senior ini merasa terpanggil untuk berbagi sedikit ilmu yang mereka miliki.

“membantu teman-teman tunanetra lain untuk belajar sebenarnya bentuk timbal balik kami untuk Mitra Netra, karena kami bisa sekolah, kuliah dan bekerja itu berkat Mitra Netra juga” ucap salah satu relawan tunanetra pengajar bahasa inggris.

Dalam praktiknya, kegiatan peer teaching menemui berbagai tantangan. Menurut para relawan pengajar, diperlukan kreativitas dan kesabaran dalam memecahkan tantangan tersebut. Berbagai bentuk tantangan dan pemecahannya diuraikan sebagai berikut:

  • Mitra dampingan belum menguasai baca tulis braille atau komputer bicara, sehingga metode belajar harus dilakukan secara lisan.
  • Tingkat pemahaman dan latar belakang pendidikan (basic knowledge) setiap mitra dampingan yang berbeda, tergantung dari usia saat mengalami gangguan penglihatan dan faktor lainnya. Umumnya pengajar akan melakukan metode diskusi dalam situasi belajar berbentuk kelas. Hal ini bertujuan menghindari kebosanan dari mitra dampingan yang lebih cepat memahami materi.
  • Penyampaian materi dalam bentuk visual. Umumnya pengajar akan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya sebagai alat bantu peraga. Misal melipat kertas untuk menunjukkan bentuk bangun ruang atau sudut pada matematika.
  • Sikap mitra dampingan yang kurang rileks saat belajar. Hal ini dapat disiasati dengan pemberian materi sesuai dengan minat dan hobi para mitra dampingan.

Meski pun banyak tantangan, peer teaching ini memberikan banyak manfaat bagi para mitra dampingan. Manfaatnya antara lain dapat meningkatkan kemampuan bersosialisasi (social skill), kemampuan berkomunikasi serta meningkatkan kepercayaan diri pada tunanetra. Hal ini selaras dengan tujuan program rehabilitasi Mitra Netra, yakni mengurangi dampak psikoligis akibat ketunanetraan yang dialami seseorang. selain itu, Metode peer teaching ini dirasakan oleh para tunanetra lebih nyaman dan menyenangkan. Luna, seorang mitra dampingan yang memanfaatkan layanan pendampingan belajar di Mitra Netra sejak tahun 2013, mengaku merasa nyaman dengan layanan yang diberikan.

“belajar dengan sesama teman tunanetra itu menyenangkan, karena bisa lebih santai dan materinya jadi lebih mudah dipahami” ujar Luna.

Luna menyatakan bahwa dia mendapatkan pendampingan belajar sejak mendaftar program kejar paket A. Kini, gadis berusia 18 tahun ini sedang mempersiapkan ujian paket C setara SMA. Dia juga mengungkapkan bahwa metode belajar yang disukainya adalah dengan berdiskusi dan tanya jawab.

”aku banyak terbantu dengan pendampingan belajar di mitra Netra karena bisa lebih intensif dan terjadwal dibandingkan kalau belajar sendiri di rumah” ungkap Luna.

Senada dengan Luna, hermanto dan Nina juga menyatakan bahwa pendampingan belajar membuat mereka dapat mengejar ketertinggalan pendidikan karena tidak dapat bersekolah akibat ketunanetraan yang dialami semenjak kecil. Meski pun awalnya ragu karena tidak dapat membayangkan bagaimana cara tunanetra belajar, justru kini hermanto dan Nina menjadi mitra dampingan yang paling rajin mengikuti pendampingan belajar dengan metode peer teaching. Sebagai informasi, Hermanto dan Nina baru akan mengikuti ujian kesetaraan di tahun 2020.

“Mau belajar dari sekarang, biar lebih siap pada saat ujian dan lebih banyak ilmu yang didapat” ujar Hermanto yang disambut persetujuan Nina.

Banyak harapan yang disampaikan untuk kegiatan peer teaching di Mitra Netra. Semakin banyak mitra dampingan yang bergabung menjadi relawan, penyediaan fasilitas alat bantu dan ruang belajar yang mendukung pendampingan belajar serta pemberian pelatihan pada relawan pengajar agar dapat meningkatkan kamampuannya. Dengan demikian manfaat peer teaching dapat dirasakan oleh semua pihak, baik Mitra Netra, relawan pengajar maupun para mitra dampingan. Mari dukung pemberian pendidikan berkualitas untuk para penyandang tunanetra!

*Juwita Maulida