Ayo! Tentukan Masa Depan “Anti Galau” Dengan Mitra Netra Soft Skill Training

Mitra Netra Soft Skill Training“Benar-benar menyenangkan, di luar ekspetasi aku”.

Itulah kalimat yang diungkapkan Ririn, salah satu mitra dampingan di Mitra netra saat menceritakan pengalamannya mengikuti kegiatan soft skill training beberapa waktu lalu. Bersama 19 peserta tunanetra lainnya, gadis bernama lengkap Ririn Diah Sartika ini mendapatkan berbagai materi berharga pada pelatihan Bimbingan Karir dan Pengembangan Intra dan Interpersonal untuk Tunanetra , 30 Maret – 6 April 2019 di saung Mitra Netra, Lebak Bulus.

Pre-employment training yang diselenggarakan sejak 2015 ini merupakan program rutin bagian ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra yang bekerjasama dengan Fakultas Psikologi Universitas Yarsi. Menurut Aria Indrawati, Kabag Humas dan Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra, pelatihan ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya pelatihan bimbingan karier selalu diikuti oleh mitra dampingan berstatus mahasiswa atau usia bekerja, maka di tahun 2019 ini, batas usia peserta pelatihan diperluas, yakni dari usia SMA sederajat.

“Pelatihan dilaksanakan selama dua hari, Sabtu 30 Maret dan 6 April dengan pertimbangan agar tidak mengganggu jadwal Adik-adik yang bersekolah” ungkap Aria.

Selama dua hari, para peserta diajarkan keterampilan mengenali serta mengembangkan intrapersonal dan interpersonalnya. Dipandu oleh Alabanyo Brebahama dan Arif Triman, dosen psikologi Universitas Yarsi, Ririn dan kawan-kawan diajarkan materi seperti konsep diri, menentukan strength & weakness dan penetapan tujuan masa depan dengan teori SMART yang dikemukakan oleh Locke. Agar menarik dan tidak membosankan, materi pelatihan dikemas dalam berbagai bentuk games dan diskusi interaktif.

“Setelah mengenali konsep diri dan menentukan smart, aku dapat menentukan pekerjaan apa yang lebih sesuai dengan kondisi fisikku sekarang” ujar Ririn bersemangat.

Ririn menjelaskan secara singkat bahwa konsep diri adalah meteri tentang mengenali diri sendiri, dari segi potensi, kondisi fisik dan pandangan dari lingkungan sekitar. Ririn yang menjadi tunanetra karena dampak dari syndrome autoimun, selalu merasa cepat lelah jika beraktivitas seharian. Oleh karena itu, gadis lulusan Universitas Indonesia jurusan sastra arab ini, memutuskan untuk meniti karier sebagai pengajar atau pendakwah alih-alih pekerja kantoran yang menjadi cita-citanya dahulu. Untuk mencapai cita-citanya tersebut, Ririn menetapkan langkah-langkah dengan teori SMART (Spesifik, Measurable, Action oriented, Reachable, Time-bound). Teori ini mengukur bahwa cita-citanya menjadi ustadzah merupakan tujuan yang spesifik, terukur dan dapat dicapai sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisiknya.

Lain Ririn, lain pula Fauzi. Jika Ririn berubah haluan dari ingin bekerja di sektor formal menjadi informal, Fauzi sebaliknya makin mantap mengejar cita-citanya menjadi seorang ahli hukum. Siswa kelas XI di SMAN 66 Jakarta ini merasa senang dapat mengikuti pelatihan soft skill di Mitra netra. Selain dapat memantapkan tujuannya berkuliah di jurusan hukum Universitas Indonesia, Fauzi berkesempatan juga untuk mempresentasikan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mewujudkan cita-citanya itu.

“Langkah yang saya lakukan untuk meraih cita-cita, belajar dengan rajin dan mengejar prestasi lebih baik di sekolah” ujar Fauzi bersungguh-sungguh.

Bagaikan mendapatkan suntikan energi baru, Ririn, Fauzi dan peserta pelatihan lainnya kini bersemangat merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan membawa mereka lebih dekat pada tujuan masa depan yang diinginkan. Ririn berharap kegiatan soft skill training ini dapat berlanjut dan diperpanjang durasi waktunya. Dengan demikian lebih banyak lagi materi bermanfaat yang bisa disampaikan.

“Kalau ditanya kekurangan dari training kemarin itu adalah waktunya, kurang lama maksudnya hahaha” ucap Ririn sambil tertawa.

Seperti halnya dengan Ririn, Fauzi juga berharap akan ada pelatihan-pelatihan sejenis untuk meningkatkan soft skill teman-teman tunanetra lainnya. dengan demikian para mitra dampingan terus termotivasi, dapat berbagi pengalaman serta menceritakan success story di antara alumni atau peserta pelatihan berikutnya.

*Juwita maulida

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *