Training of Trainers, Strategi dalam Peningkatan Diversifikasi Pekerjaan bagi Tunanetra

Photo training of trainer pemrograman PHPSerempak semua yang hadir berteriak “T-O-T OK” ke arah kamera. Para peserta kegiatan, perwakilan Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia (DPP Pertuni), perwakilan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI serta panitia penylenggara dari Yayasan Mitra Netra melakukan sesi foto bersama sebelum memulai kegiatan pelatihan Trainer (TOT) “Pemrograman Komputer PHP dan MySQL Tingkat Dasar Perspektif Tunanetra”, di Hotel Park 5 , Cilandak, Jakarta Selatan.

Kegiatan yang berlangsung pada 22-27 April 2019 ini diselenggarakan oleh Yayasan Mitra Netra dengan dukungan dari Overbrook Nippon Network on Educational Technology (ON-NET). Sebagai informasi, ON-NET adalah jaringan kerjasama antara Overbrook Amerika dan Nippon Jepang untuk menyelenggarakan pendidikan teknologi di Asia Tenggara yang berpusat di Bangkok, Thailand. Peserta pelatihan yang berjumlah 16 orang adalah perwakilan berbagai lembaga dari 8 daerah seluruh Indonesia, yakni SLB-A Negeri Kota Bandung, Jawa Barat; SLB-A Yaketunis, Yogyakarta; SLB-A Negeri 3 Martapura, Kalimantan Selatan; SLB-A Yapentra, Tanjung Morawa, Sumatera Utara; DPD Pertuni Jawa Tengah; DPD Pertuni Jawa Timur; DPD Pertuni Bali dan DPD Pertuni Sulawesi Selatan.

Sebagai lembaga non profit yang fokus pekerjaannya adalah mengembangkan dan menyediakan layanan inovatif dalam memberdayakan tunanetra, mitra Netra menyadari pentingnya penguasaan akses teknologi dalam peningkatan diversifikasi pekerjaan bagi tunanetra.

“Tunanetra dianggap dapat mengikuti zaman apabila dapat menguasai akses teknologi” tutur Bambang Basuki,  Ketua yayasan Mitra Netra saat memberikan sambutannya.

Pendiri Mitra Netra ini juga mengungkapkan bahwa dalam upaya peningkatan program akses teknologi, ada dua tahapan strategi yang dilaksanakan. Tahap pertama adalah merintis penguasaan akses teknologi  dengan cara: Mitra Netra mencari ilmu akses teknologi, mengikuti berbagai pelatihan dan mengembangkan materi yang sesuai bagi tunanetra. di Strategi tahap kedua, Mitra netra mencari donor yang dapat memberikan dukungan untuk pemberdayaan lembaga-lembaga lain sehingga dapat menyebarluaskan ilmu yang telah diberikan.

Senada dengan Bambang Basuki, perwakilan direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Tita Srihayati, menyatakan dukungan pemerintah atas penyelenggaraan kegiatan ini. Peningkatan mutu layanan pendidikan yang menjadi salah satu fokus utama Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus memiliki visi yang sama dengan tujuan dari kegiatan TOT yang diinisiasi oleh Mitra Netra.

“Saya Berharap ini bisa menjadi awal komunikasi dan memberikan masukan kepada Pemerintah untuk memperbaiki kebijakan di waktu mendatang” kata Tita.

Dalam upayanya, Pemerintah kini sedang mengembangkan kebijakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan menciptakan kurikulum dengan alokasi waktu magang di perusahaan bagi peserta didik penyandang disabilitas. Hal ini bertujuan agar penyandang disabilitas memiliki pengalaman nyata tentang dunia kerja yang sesungguhnya dan mendapatkan peluang kerja sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Pentingnya memberikan pembekalan keterampilan serta pengalaman bagi para penyandang disabilitas merupakan tugas berbagai pihak. Tahk hanya Pemerintah, tetapi juga sekolah, lembaga dan masyarakat. Oleh karena itu, Mitra netra berharap manfaat kegiatan TOT ini dapat dirasakan serta semakin banyak tunanetra Indonesia yang menguasai akses teknologi.

“Diharapkan dengan kegiatan TOT ini peserta yang hadir akan menyebarluaskan ilmu pemrograman tingkat dasar ini ke daerahnya, sehingga peluang kerja di bidang teknologi programming dapat terlaksana bagi tunanetra yang memiliki minat, bakat dan kesungguhan untuk menggeluti pekerjaan ini” pungkas Bambang Basuki.

*Juwita Maulida

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *