KBBI Versi Elektronik yang Ramah Tunanetra

Selasa, 10 September. Bertempat di kantor Badan Bahasa, telah ditandatangani perjanjian kerja sama antara Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S. dan Ketua Yayasan Mitra Netra, Drs. Bambang Basuki, untuk pembuatan

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi elektronik yang dapat dengan mudah diakses oleh tunanetra. Jangka waktu pembuatan KBBI yang ramah tunanetra ini terhitung sangat singkat, yaitu hanya dua bulan. Hal ini dimungkinkan, karena Yayasan Mitra Netra difasilitasi dengan data base KBBI oleh Badan Bahasa. Untuk mengerjakan KBBI versi elektronik ini, Yayasan Mitra Netra telah menyiapkan tim pengembang aplikasi yang telah memiliki pemahaman bagaimana mengembangkan aplikasi yang dapat digunakan secara mandiri oleh tunanetra.

KBBI versi elektronik luar jaringan ini ditargetkan akan diresmikan penggunaannya pada tanggal 28 Oktober 2019, bertepatan dengan momentum peringatan Bulan Bahasa 2019.

Satu lagi impian tunanetra terwujud, ada Kamus Besar Bahasa Indonesia versi elektronik yang dapat digunakan secara mandiri oleh tunanetra.

Memiliki ketrampilan berbahasa dengan baik, termasuk Bahasa Indonesia, adalah salah satu ketrampilan dasar yang harus dimiliki oleh tunanetra. Dan, untuk belajar bahasa, bahasa apa pun itu, kita harus memiliki akses ke “kamus”. Setelah pada tahun 2002-2003 Mitra Netra meluncurkan kamus bahasa Inggris-Indonesia – Indonesia-Inggris John Eccol dan Hassan Shadili versi elektronik untuk tunanetra bernama “Meldict”, tidak lama lagi, Indonesia akan memiliki KBBI versi elektronik luar jaringan yang juga ramah untuk pengguna tunanetra.

Selanjutnya, tunanetra yang ingin berporfesi sebagai penulis, atau, berprofesi sebagai peneliti yang juga harus banyak menulis untuk mempublikasikan tulisannya, Atau, bahkan siswa tunanetra yang sedang belajar bahasa Indonesia dan membutuhkan kamus, tak perlu galau lagi. Ada KBBI versi elektronik luar jaringan yang “accessible” untuk mereka. “Kamus adalah sarana belajar bahasa untuk semua”.

Penghargaan tinggi tak lupa kita berikan kepada Badan Bahasa, yang telah mendengarkan aspirasi masyarakat. Sebelumnya, KBBI dibuat versi Braille, dan diluncurkan pada 28 Oktober 2018. Kamus versi Braille ini tidak praktis penggunaannya. Di samping bentuknya yang tebal, untuk mencari satu kata pun tunanetra akan kesulitan, kata itu ada di buku/volume kamus yang mana. Jika versi elektronik, tentu akan dilengkapi dengan fasilitas “mencari”. Sangat mudah digunakan, sangat mudah disimpan, cukup dikopikan di perangkat kita.

Ayooo, Nantikan kehadirannya, tanggal 28 Oktober mendatang; KBBI versi elektronik luar jaringan yang ramah tunanetra.

*Aria Indrawati.