Pesan Tentang Peserta Didik Tunanetra Untuk Menteri Pendidikan Nadiem Makarim

Sempat mengagetkan, ketika Presiden Joko Widodo menunjuk Nadiem Makarim, pendiri GOJEK sebagai Menteri Pendidikan. Sederet keraguan pun muncul ke ranah publik. Pak Menteri yang masih belia ini pun menjawab keraguan itu dengan statement-statementnya. “Saya akan belajar dulu dan saya adalah pembelajar yang cepat”, itu salah satu statement Sang Menteri pendidikan yang kini berusia 35 tahun tersebut.

Bagi pelaku dan pemerhati pendidikan untuk tunanetra, sebagaimana Yayasan Mitra Netra, dipilihnya Nadiem Makarim justru membawa semangat dan harapan baru. Betapa tidak. Nadiem Makarim identik dengan pemanfaatan teknologi untuk mempermudah kehidupan masyarakat melalui layanan “GOJEK” yang ia bangun. Mulai dari transportasi, pengiriman barang, layanan pembayaran digital, belanja, membersihkan rumah atau kantor, dan banyak lagi.

Yayasan Mitra Netra, sebagai lembaga pengembang dan penyedia layanan untuk tunanetra, selama 28 tahun telah membuktikan bahwa penggunaan teknologi sangat membantu kemandirian tunanetra dalam belajar. Beberapa contoh di antaranya, penggunaan aplikasi pembaca layar untuk penggunaan komputer; Diciptakannya kamus elektronik English Indonesia Indonesia English Meldict untuk memudahkan tunanetra belajar Bahasa Inggris; diciptakannya aplikasi Mitra Netra Braille Converter (MBC) dan perpustakaan Braille online www.kebi.or.id untuk mempercepat produksi dan distribusi buku Braille di Indonesia – negara yang berbentuk kepulauan ini; Diciptakannya MathMBC untuk mempermudah tunanetra belajar matematika; Dan terakhir, diciptakannya Kamus Besar Bahasa Indonesia versi elektronik luar jaringan untuk mempermudah tunanetra mengembangkan ketrampilan berbahasa Indonesia.

Saat menghimpun masukan dari masyarakat, di antaranya Ikatan Guru Indonesia, Menteri Nadiem mengatakan jangan hanya menyampaikan persoalan, namun juga sekaligus bagaimana usulan solusinya. Selama hadir 28 tahun, Mitra Netra senantiasa tampil untuk memberikan solusi atas pelbagai persoalan yang diahdapi tunanetra di bidang pendidikan. Saat ini, misalnya, Mitra Netra sedang berupaya mengatasi persoalan peserta didik tunanetra yang bersekolah di sekolah reguler dalam belajar matematika. Kesulitan itu dikarenakan guru matematika sekolah reguler tidak memahami bagaimana mengajarkan matematika kepada peserta didik tunanetra. Solusi yang Mitra Netra tawarkan adalah, menyusun buku panduan yang memberikan referensi dan rekomendasi strategi pembelajaran matematika untuk peserta didik tunanetra mulai kelas 1 hingga kelas 12, serta mengembangkan aplikasi MathMBC untuk mempermudah guru matematika berinteraksi dengan siswa tunanetra di kelas.

Saat Menteri Nadiem mengatakan di depan media bahwa “belajar bahasa coding” akan diwajibkan untuk siswa SMA, saya langsung bersemangat; “Yes”. Ini saatnya. Namun, pertanyaan muncul, apakah peserta didik tunanetra di SMA yang semuanya mengambil jurusan IPS akan mendapat kesempatan belajar bahasa coding? Selama ini Tunanetra terpaksa harus memilih jurusan IPS, karena jurusan IPA di Indonesia belum dapat memfasilitasi kebutuhan khusus peserta didik tunanetra; Tidak seperti di negara lain misalnya Singapore dan Philipine.

Masih banyak persoalan pendidikan tunanetra yang harus diselesaikan. Ide-ide kreatif pun sudah ada di agenda. Pertanyaannya, apakah pak Menteri Pendidikan yang masih muda belia dan penuh inovasi ini juga menganggap pemberdayaan dan pendidikan tunanetra itu prioritas? Saya percaya, jika Mitra Netra berkesempatan bertemu langsung dengan Menteri Nadiem, semua ide untuk mengatasi peliknya persoalan pendidikan tunanetra di Indonesia akan dapat disampaikan, dan Yayasan ini pun siap sedia menjadi partner Pak Menteri untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut, karena untuk itulah memang Mitra Netra didirikan dan hadir di Indonesia.

*Aria Indrawati.