Suatu siang saya kedatangan tamu, pembuat iklan yang dipesan oleh sebuah produsen obat anti diabetes, yang belakangan ini sering muncul di layar kaca.

Mereka bermaksud menampilkan dua figur penyandang disabilitas, satu orang amputee dan satu orang tunanetra, yang “camera face” menurut mereka.

Namun, tujuan penampilan dua sosok penyandang disabilitas tersebut adalah untuk “memperingati/menakuti” penonton iklan tersebut, jika mereka tidak peduli pada diabetes yang mereka derita, mereka kemungkinan akan menjadi seperti “dua sosok penyandang disabilitas tersebut”, mungkin diamputasi jika mengalami luka dan kadar gula darah tinggi, atau menjadi tunanetra akibat diabetes, yang biasa disebut retinopati diabetika.

Sebagai penyandang disabilitas, saya selalu menginginkan penampilan penyandang disabilitas di publik – termasuk iklan – dilihat dari perspektif yang positif. Olehkarenanya, saat petugas perusahaan pembuat iklan ini meminta saya merekomendasikan tunanetra untuk ditampilkan di iklan tersebut, saya tidak memenuhinya, berapa pun honor yang akan diberikan, karena ini bertentangan dengan misi publikasi Mitra Netra.

Ada kemungkinan perusahaan iklan ini belajar dari beberapa iklan produk yang menampilkan teman-teman tunarungu. Bedanya, di iklan-iklan tersebut, teman penyandang disabilitas benar-benar ditampilkan sebagai “tallent”, bukan untuk menakuti penonton.

Hal serupa pernah dilakukan sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, saat memperingati hari glaukoma. Dalam iklan layanan masyarakat yang ditayangkan di sebuah surat kabar nasional terkemuka, mereka menggunakan sosok tunanetra yang sedang membaca huruf braille untuk menakuti orang yang berpotensi mengalami glaukoma. Pesan yang disampaikan adalah, jika mereka tidak merawat glaukoma yang dialami, mereka akan menjadi buta dan harus membaca “huruf braille”. Di iklan ini, huruf braille dijadikan hal untuk menakuti para penyandang glaukoma. Padahal, huruf braille adalah solusi bagi tunanetra. Dengan huruf braille tunanetra yang tak dapat melihat dapat membaca, dapat belajar, menjadi cerdas, mandiri, dan bermakna di masyarakat.

Atas kemunculan iklan itu, Mitra Netra secara resmi menyampaikan complain, dan pihak rumah sakit meminta maaf.

Selayaknya para pembuat iklan lebih beretika dalam membuat iklan, apapun itu. * Aria Indrawati.

About Author

Leave Comment