Pandemi COVID 19 telah berlangsung selama 7 bulan; Tak terasa, banyak hal dalam kehidupan kita harus disesuaikan dengan kondisi pandemi ini. Namun, karena fitrah manusia adalah mahluk yang mampu beradaptasi, perlahan kita semua mulai menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru yang harus kita tempuh.

Salah satu kegiatan yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir semakin marak dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah kegiatan yang memungkinkan ada interaksi antara mereka yang menyandang disabilitas dengan mereka yang tidak menyandang disabilitas. Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk membangun masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang lebih inklusif, yang mampu menerima dan menghargai adanya perbedaan di antara warganya, termasuk perbedaan karena menyandang disabilitas.

Mitra Netra, sebagai lembaga pengembang dan penyedia layanan pendukung pendidikan untuk tunanetra pun turut berpartisipasi menyemarakkan kegiatan di masyarakat; Lembaga ini Bahkan telah memulainya jauh sebelum ide menarik tersebut marak dilakukan masyarakat. Misalnya, Senam pagi bersama tunanetra di kawasan Senayan; , Pentas seni bersama tunanetra di gedung kesenian Jakarta dan Gute Institute, ngeband bersama tunanetra di acara syukuran hari ualgn tahun Mitra Netra, dan sebagainya. 

Yang lebih intensif dilakukan pada lima tahun terakhir adalah; bioskop bisik atau nonton bareng tunanetra, yang mempertemukan para tunanetra dengan masyarakat yang tidak tunanetra yang sama-sama suka nonton film. Mereka yang tidak tunanetra mendapat tugas menjadi “pembisik” yang menginformasikan pada tunanetra jika di layar ada adegan-adegan tanpa dialog. Sepeda tendom, event di saat para tunanetra bersepeda bersama mereka yang tidak tunanetra; Saat bersepeda, volunteer yang mengayuh di depan bertugas menjelaskan apa saja yang mereka lalui bersama, sepanjang bersepeda; Jalan-jalan dan rekreasi bersama tunanetra, ke musium, bermain rafting, mendaki gunung, kegiatan outbound, dan sebagainya.

Setelah kegiatan berakhir, relasi pertemanan antara tunanetra dengan para volunteer yang menjadi pembisik atau pendamping sering kali masih terus dijalin. Kedua pihak merasa senang dapat bertemu, berkenalan dan berteman. Sebagian volunteer bahkan menyampaikan momentum kegiatan tersebut adalah momentum untuk pertama kali mereka berinteraksi dengan penyandang tunanetra. Awalnya memang agak cangfung; Namun, setelah berteman selama beberapa waktu, kecanggungan itu mencair juga. Sebagian ada yang telah berhasil mencairkan kecanggungan bahkan di pertemuan pertama.

Dimasa pandemi COVID 19, disaat masyarakat diminta untuk membatasi kegiatan di luar rumah, menyelenggarakan event bersama sebagaimana di atas tidak mungkin dilakukan. Apalagi Jakarta adalah kota dengan tingkat penularan tertinggi di Indonesia. Namun, kreativitas manusia tidak terhalang oleh pandemi. Dengan dukungan teknologi, kegiatan masyarakat yang tidak menyandang disabilitas bersama para penyandang disabilitas dapat dilakukan secara daring atau online. Tentu saja ragam kegaitannya berbeda dengan jika kita menyelenggarakan kegiatan secara tatap muka atau bertemu langsung. Jadi, bukan bioskop bisik, bukan juga sepeda tandom atau jalan-jalan ke musium.

Lalu apa? Ngobrol-ngobrol daring!

Adalah Yayasan Helping Hands, yang berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ngobrol-ngobrol daring bersama tunanetra. Helping Hands mengundang 10 orang tunanetra dari Mitra Netra dan 10 orang masyarakat bukan penyandang disabilitas dari komunitas Menjadi Manusia. Kedua kelompok ini dipertemukan dalam sebuah ruang virtual, satu ruangan diisi oleh satu orang tunanetra dan satu orang bukan tunanetra bersama satu orang observer.

Agar ngobrol-ngobrol daring ini dapat berjalan dengan terarah, alur obrolan pun telah dirancang. Mulai dari saling memperkenalkan diri; kemudian dilanjutkan dengan obrolan dengan topik-topik yang telah dipilihkan oleh penyelenggara kegiatan. Topiknya ringan dan sederhana; Namun, dari topik ringan tersebut, kedua pihak dapat saling mengenal satu sama lain, dan selanjutnya diharapkan dapat berteman.

Contohnya, hal apa yang membuatmu paling sedih; Pengalaman tak terlupakan apa yang kamu punya; Kegiatan apa yang kamu lakukan saat ini; Dan sebagainya. 

Pada sesi refleksi, kedua kelompok diminta menyampaikan komentar mereka satu per satu atas kegiatan ini. Dan, rata-rata kedua pihak menyatakan bahwa selama berlangsungnya sesi obrolan tak ada masalah. Peserta yang bukan tunanetra juga mengatakan bahwa rasanya tidak ada bedanya ngobrol dengan penyandang tunanetra; Sama saja. Mereka juga sangat terkesan dengan kegiatan yang dilakukan oleh teman ngobrol mereka yang menyandang tunanetra; “Ternyata banyak juga kegiatannya.” “Ternyata tunanetra juga bisa menggunakan komputer dan aplikasi-aplikasi.”

Memiliki pemahaman yang benar tentang penyandang disabilitas, termasuk penyandang tunanetra sangat penting dalam proses membangun masyarakat yang inklusif. Dengan adanya paradigma baru yang menganggap disabilitas sebagai bagian dari keragaman manusia, perlakuan pada penyandang disabilitas kini menggunakan pendekatan yang berbeda. Jika dahulu penyandang disabilitaslah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana mereka akan berkegiatan; Saat ini, lingkunganlah yang harus dibangun sehingga memungkinkan para penyandang disabilitas dapat berpartisipasi penuh di masyarakat di semua aspek kehidupan, atas dasar kesetaraan dengan yang lainnya.

Kegiatan ngobrol daring bersama tunanetra merupakan salah satu langkah untuk mempertemukan masyarakat yang tidak menyandang disabilitas dengan para penyandang tunanetra, yang mungkin, selama ini masih terhalang oleh sekat-sekat yang ada di masyarakat; Sekat-sekat yang diciptakan oleh sistem pendidikan; Sekat-sekat yang diciptakan oleh budaya bibit bebet bobot; dan sebagainya. Sekat-sekat penghambat inilah yang kemudian berdampak pada munculnya pengabaian, eksklusifitas yang mengeluarkan penyandang disabilitas dari arus utama, serta perlakuan diskriminasi; Perlakuan diskriminasi ini bahkan telah dimulai sejak Pemerintah membangun kebijakan dan peraturan perundangan.

Mitra Netra menyampaikan apresiasi atas inisiatif Helping hands mengadakan kegiatan ini. Agar dampak kegiatan ngobrol daring bersama tunanetra ini dapat lebih mendalam, Mitra Netra telah mengusulkan agar helping Hands mengadakan kegiatan serupa untuk kelompok remaja. Apa yang dilakukan oleh Helping Hands ini merupakan bagian dari proses pendidikan. Agar dampak dari pembelajaran yang baik ini lebih mendalam pada generasi muda, melakukannya pada usia yang lebih muda adalah langkah yang tepat. Dengan demikian, para remaja yang belum pernah berinteraksi dengan penyandang disabilitas memiliki kesempatan dan pengalaman lebih awal; Hal ini diharapkan akan membentuk pola pikir yang benar tentang penyandang disabilitas lebih dini. “Lebih dini lebih baik.”

*Aria Indrawati.

About Author

Leave Comment