UNTUK IBU

Oleh: Etsuko Kishikawa, dari buku “I Want to Hear Your Voice”

Kanako sudah tidak lagi menjadi gadis cengeng seperti dulu lagi. Kanako tidak lagi menangis dan patah semangat jika dipandang dengan tatapan dingin sekalipun, atau jika ia mendengar kata-kata seperti, “Pasti ia gagal dalam pelajaran dan olahraga karena anak dari orangtua yang tuli.” Kanako selalu berusaha keras karena kelak ia ingin agar orangtuanya diakui oleh semua orang. Ia meraih nilai yang bagus dalam pelajaran dan juga terpilih menjadi salah satu pelari utama dalam perlombaan sekolah.

Di rumah, Ibu berperan sebagai pendidik sementara Ayah adalah ahlinya bermain. Pada waktu kecil, Kanako selalu diajak bermain tangkap bola oleh ayahnya di pantai berpasir yang terhampar luas di depan rumahnya. Ibu juga mengajaknya bermain kelereng bersama, tetapi Ibu mengajarkannya bermain sambil belajar, seperti menghitung jumlah dan warna kelereng.

Kata-kata favorit Ibu, “Ayo, baca buku!” Ibu membaca satu halaman buku setiap hari. Ia mengatakan bahwa dengan membaca buku, ia dapat bertualang ke dunia yang belum pernah diketahuinya sebelumnya. Menyenangkan, katanya, karena itu ia tidak hanya mendapat pengetahuan, tetapi sekaligus merasakan pengalaman hidup berbagai macam tokoh melalui buku-buku tersebut. Saat membaca buku Gauche Sang Pemain Celo, ia seolah menjadi Gauche. Lalu, ketika membaca buku I Am Cat, ia bisa menjadi seekor kucing ¬†katanya sambil bercerita dengan senangnya kepada Kanako melalui bahasa isyarat atau tulisan.

Akan tetapi, ada kalanya Kanako merasa kebingungan.

“Duar,” bunyi kembang api.

“Byur,” bunyi ombak menerjang.

“Whus-whus,” bunyi angin bertiup.

Ketika Ibu menunjuk kata-kata seperti “duar”, “byur”, “whus-whus”, ia akan bertanya kepada Kanako, “Bunyinya seperti apa?”

Karena Ibu tidak mempunyai gambaran mengenai “bunyi”, dijelaskan seperti apa pun, Ibu tidak akan bisa begitu mengerti. Karenanya Kanako membaca banyak buku, agar suatu saat ia bisa menyampaikan bagaimana “bunyi” itu kepada Ibu walaupun hanya sedikit. Tentu saja, ia juga tak lupa belajar. Lalu sedikit demi sedikit, ia ingin menjadi orang berhati besar yang dapat memahami rasa sakit dan kesedihan hati orang, serta merasakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil atau besar dari orang lain.


KESEMPURNAAN TUHAN

(Author Unknown)

“Kamu tidak pernah benar-benar kalah, sampai kamu berhenti mencoba.”

Di Brooklyn, New York, Cush adalah sebuah sekolah luar biasa bagi anak-anak cacat. Beberapa anak tetap tinggal di Cush selama masa sekolahnya sedangkan yang lain diperbolehkan melanjutkan ke sekolah biasa.

Pada suatu malam pengumpulan dana, salah seorang ayah yang anaknya bersekolah di Cush memberikan pidato yang tak terlupakan oleh para hadirin. Setelah memuji sekolah dan para staf yang telah menunjukkan dedikasinya yang tinggi, ia menangis, “Di manakah kesempurnaan diri anak saya Shay? Bukankah semua yang Tuhan ciptakan adalah sempurna? Namun, mengapa anak saya tidak bisa mengerti sebagaimana anak-anak lain? Mengapa anak saya tidak bisa mengingat angka dan gamba rsebagaimana anak-anak lain? Di manakah kesempurnaan Tuhan?”

Para hadirin sangat terkejut, tersentuh dengan kesedihan si Ayah dan terdiam oleh pertanyaan itu. “Saya percaya,” lanjut si Ayah, “Bahwa ketika Tuhan melahirkan seorang anak seperti anak saya ke dunia ini, kesempurnaan yang dicarinya terletak pada bagaimana perlakuan orang-orang lain terhadap anak itu.”

Kemudian, ia menceritakan kisah berikut ini mengenai anaknya, Shay.

Suatu sore, Shay dan ayahnya berjalan-jalan melintasi taman tempat beberapa anak lelaki yang Shay kenal sedang bermain baseball. Shay memohon pada ayahnya, “Yah, menurut Ayah, apakah mereka membolehkan saya ikut bermain?”

Ayah Shay mengerti bahwa anaknya tidak memiliki kemampuan atletik dan pasti semua anak lelaki itu tak kan mengizinkannya bermain dalam tim mereka. Namun, ayah Shay juga mengerti bahwa jika anaknya bisa ikut bermain, Shay akan merasakan kebahagiaan karena bisa turut memiliki.

Kemudian, ayah Shay mendekati seorang anak lelaki yang ada di lapangan itu, dan bertanya apakah Shay boleh ikut bermain. Anak lelaki itu melihat ke sekeliling, meminta pertimbangan dari rekan-rekan lainnya.

Karena tak ada yang memberikan pertimbangan, ia memutuskan sendiri, “Kami sedang kalah enam angka, sedangkan pertandingan ini berlangsung sembilan inning. Saya pikir, anak Anda bisa bergabung dalam tim. Kami akan menempatkannya sebagai pemukul di inning kesembilan.”

Ayah Shay amat senang. Shay pun tersenyum lebar. Shay diminta untuk mengenakan sarung tangan dan menunggu di barisan tunggu luar lapangan. Di akhir inning kedelapan, tim Shay memperoleh beberapa angka, tetapi tetap tertinggal tiga angka dari tim lawan.

Kemudian, di inning kesembilan, mereka memperoleh angka lagi. Dua orang berhasil berdiri di base dan siap-siap untuk memperoleh kemenangan angka. Kini, tiba giliran Shay memukul. Apakah tim Shay benar-benar akan memasukkan Shay sebagai pemukul berikutnya, dan mengambil risiko untuk kemenangan mereka yang sudah berada di dalam genggaman?

Sangat mengejutkan, Shay diizinkan untuk memukul. Semua orang tahu bahwa hal itu hampir-hampir mustahil karena Shay sama sekali tidak tahu bagaimana memegang tongkat pemukul baseball. Bagaimanapun, Shay tetap maju ke papan pemukul. Seorang pitcher bergerak beberapa langkah dan melemparkan bola itu perlahan ke arah Shay sehingga memungkinkan Shay untuk menyentuh bola itu.

Lemparan pertama dilakukan. Shay memukul tanpa arah dan gagal. Salah seorang teman Shay mendekati dan bersama-sama memegang pemukul itu dan menghadapi sang Pitcher yang sudah bersiap-siap untuk melemparkan bola kedua.

Sekali lagi, si Pitcher maju beberapa langkah dan melemparkan bola itu perlahan ke arah Shay. Ketika bola dilemparkan, Shay dan rekannya yang membantu memegangi tongkat pemukul, akhirnya bisa memukul bola itu perlahan sekali ke arah pitcher.

Sang pitcher menangkap bola yang menggelinding di tanah perlahan. Ia harus melemparkan bola itu ke penjaga di base pertama. Dengan demikian, Shay bisa saja gagal mencapai base pertama, keluar dari pertandingan dan timnya pasti menderita kekalahan.

Namun, apa yang terjadi? Si Pitcher melemparkan bola itu ke kanan, jauh ke atas melewati kepala penjaga base pertama sehingga tak terjangkau. Lalu, semua orang berteriak-teriak, “Shay, ayo lari ke base pertama, lari ke base pertama!”

Selama hidupnya, Shay belum pernah lari ke base. Ia tergesa-gesa lari ke base pertama, bola matanya berbinar-binar. Ketika ia tiba di base pertama, penjaga base di sebelah kanan memungut bola. Ia bisa saja melemparkan bola itu ke penjaga base kedua yang akan mengalahkan Shay. Namun, ia melempar bola itu jauh ke atas kepala sehingga tak tertangkap oleh penjaga base kedua.

Lalu, semua orang berteriak, “Shay, ayo lari ke base kedua, ayo lari ke base kedua!”

Shay lari ke base kedua. Begitu tiba di base kedua, penjaga tim lawan melempar bola jauh ke atas sehingga tak terjangkau oleh penjaga base ketiga.

Lalu, mereka semua berteriak agar Shay lari ke base ketiga. Ketika Shay menyentuh base ketiga, semua anak di kedua tim yang sedang saling berlawanan itu berteriak, “Ayo, Shay, lari sampai akhir base …. Lari sampai akhir base!” Maka, Shay pun berlari sampai ke akhir base, menginjak papan base terakhir.

Serentak, kedelapan belas anak yang sedang bermain itu memeluk dan mengangkat Shay di atas pundak dan membuatnya seperti pahlawan kemenangan untuk timnya.

“Pada hari itu,” kata ayah Shay dengan lembut, matanya yang berkaca-kaca, kini tak tahan meneteskan air mata,”Kedelapan belas anak lelaki itu telah menemukan kesempurnaan Tuhan.”

About Author

Leave Comment