dua tangan mengenakan jas formal saling menjabat

Berkomunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan. Proses komunikasi dianggap berhasil apabila penerima pesan dapat memahami dengan baik pesan yang disampaikan oleh pemberi pesan. Komunikasi pun memiliki tujuan. Di Yayasan Mitra Netra misalnya, program-program komunikasi publik yang dikelola oleh Bagian Humas pun memiliki tujuan yang sangat spesifik. Pertama, untuk memberikan informasi tentang program dan layanan Mitra Netra kepada para tunanetra di Indonesia; Kedua, untuk membangun persepsi yang benar tentang penyandang tunanetra sebagai sumber daya manusia; Ketiga, untuk mengajak keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang tunanetra memberdayakan mereka melalui pendidikan berkualitas, dan Mitra Netra merupakan lembaga yang akan memberikan dukungan; Keempat, mengajak masyarakat turut berpartisipasi dalam pemberdayaan tunanetra yang diselenggarakan Yayasan Mitra Netra.

Dalam berkomunikasi, kita dapat melakukan secara langsung melalui tapat muka, atau, dapat melakukannya secara tidak langsung, yang biasanya akan menggunakan media tertentu. Materi komunikasi secara tidak langsung dengan menggunakan media tertentu, dapat berupa audio visual atau berupa tulisan. Media yang digunakan pun saat ini sangat beragam, satu di antaranya adalah media sosial.

Agar kita dapat berkomunikasi dengan baik, kita harus membangun keterampilan berkomunikasi. Untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan, tentu saja kita harus memiliki kemampuan berbahasa dengan baik. Olehkarenanya sangat penting bagi kita orang Indonesia untuk memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik. Apalagi jika kita berkomunikasi dengan bahasa tulisan; Bahasa tulisan bukanlah bahasa lisan yang ditulis.

Lain halnya dengan komunikasi yang dilakukan secara langsung atau tatap muka. Di samping mengharuskan memiliki ketrampilan berbahasa dengan baik serta ketrampilan mengolah suara kita saat berbicara, baik volume, intonasi, antusiasme, dan sebagainya, kita juga dianjurkan memiliki ketrampilan berkomunikasi “non verbal” pula.

Apa itu komunikasi non verbal?

Sebagaimana pilihan katanya,“non verbal”,yaitu bentuk komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata, melainkan menggunakan “bahasa tubuh atau body language”. Di antara bahasa tubuh tersebut adalah, expresi wajah, gerak tubuh saat berdiri, berjalan, saat duduk dan atau saat berbicara. Komunikasi non verbal ini pada umumnya digunakan oleh mereka yang dapat melihat, karena pada dasarnya komunikasi non verbal ini bersifat lebih visual. Meski demikian, ada pula komunikasi non verbal yang memanfaatkan indera perabaan atau menggunakan sentuhan. Di antaranya adalah pelukan, ciuman, jabat tangan, bahkan pukulan.
Sebagai contoh; Seorang ibu memeluk dan mencium anaknya untuk mengekspresikan rasa sayang yang mendalam pada anaknya tersebut. Sang anak pun akan memahami pesan sang ibu saat ia merasakan pelukan dan ciuman hangat dari ibunya. Dua sahabat atau teman yang sudah sekian lama tidak bertemu, berjabat tangan dengan erat untuk mengekspresikan kegembiraan mereka dengan pertemuan tersebut. Keduanya akan merasakan kegembiraan itu antara lain melalui jabat tangan erat yang sama-sama dilakukan. Sebaliknya, seseorang dapat melampiaskan kemarahan tidak dengan kata-katanya melainkan dengan cara memukul meja atau bahkan memukul orang yang menjadi penyebab kemarahannya.

Apakah penyandang tunanetra perlu mengetahui dan menggunakan komunikasi non verbal?

Jawabnya, “perlu.” Mengapa? Karena penyandang tunanetra hidup bersama mereka yang tidak menyandang tunanetra, baik dalam keluarga maupun di masyarakat. Tentu saja penggunaan komunikasi non verbal oleh penyandang tunanetra disesuaikan dengan apa yang dapat dilakukan dan ditangkap sesuai dengan kondisi tunanetra yang disandangnya. Karena penyandang tunanetra pun perlu mengetahui dan menggunakan komunikasi non verbal, maka, mereka pun perlu mempelajari dan memahami komunikasi non verbal. Dalam konteks tulisan ini, secara khusus akan dibagikan informasi dan tips komunikasi non verbal yan perlu diketahui, dipelajari dan digunakan penyandang tunanetra yang sedang menyiapkan diri untuk memasuki dunia kerja sektor formal.

Penulis mencermati banyak penyandang tunanetra yang tidak terlalu memperhatikan bahkan tidak memahami pentingnya komunikaisi non verbal. Alasannya adalah karena yang bersangkutan adalah seorang tunanetra yang tidak dapat melihat atau kurang dapat melihat dengan baik. Pemahaman ini tentu bukan terjadi begitu saja. Pemahaman tersebut tumbuh hasil dari sebuah proses pendidikan, baik pendidikan di dalam keluarga maupun pendidikan di sekolah. Orang tua yang memiliki anak penyandang tunanetra tidak mengajarkan kepada anak tunanetra tersebut apa itu komunikasi non verbal dan pentingnya mengetahui serta menggunakan komunikasi non verbal. Demikian juga dengan sekolah. Karena siswa penyandang tunanetra tidak dapat melihat atau kurang dapat melihat dengan baik, sekolah merasa tidak perlu untuk mengajarkan komunikasi non verbal kepada siswa tunanetra.

Bahkan, ada banyak tunanetra yang tidak menyadari bahwa dalam kondisinya sebagai penyandang tunanetra, mereka melakukan gerakan-gerakan tidak berarti yang dilakukan berulang-ulang, yang biasa disebut “blindism”. Misalnya, menggeleng-gelengkan kepala, memiring-miringkan kepala, menggoyang-goyangkan kaki atau tangan, melakukan gerakan tangan seolah akan menggosok wajah, menggoyang-goyangkan badan ke kanan ke kiri atau ke depan dan ke belakang, dan sebagainya. Gerakan repetitif yang tidak berarti ini biasanya dilakukan sebagai “kompensasi” karena kondisi tidak melihat yang dialami seorang penyandang tunanetra.

Karena penyandang tunanetra tidak dapat melihat dirinya sendiri atau kurang dapat melihat dirinya sendiri dengan baik, orang-orang yang dapat melihat yang ada di sekitar penyandang tunanetra tersebut harus membantu dengan menjadi “cermin” untuk si penyandang tunanetra, cermin yang mengatakan bahwa seorang penyandang tunanetra tidak perlu melakukan gerakan-gerakan repetitif yang tidak berati tersebut; Atau, sebaliknya, penyandang tunanetra perlu melakukan gerakan ini atau itu, sebagai salah satu bentuk komunikasi non verbal.

  1. Di bawah ini adalah beberapa hal terkait komunikasi non verbal yang perlu diperhatikan oleh para penyandang tunanetra, dalam kaitannya dengan persiapan memasuki dunia kerja.
    Pakaian.  Pakaian yang kita kenakan, baik model, corak serta warnanya, dapat menjadi salah satu bahasa non verbal kita. Kita perlu menyesuaikan pakaian yang kita kenakan dengan momentum kegiatan yang akan kita lakukan. Jika kita akan mengikuti sebuah wawancara kerja misalnya, pastikan pakaian yang akan dikenakan sesuai, baik model, corak serta warnanya. Demikian juga jika kita akan menghadiri pertemuan yang mengundang kita untuk melakukan presentasi. Di antara saran yang direkomendasikan adalah, untuk mengenakan pakaian polos, atau bercorak yang tidak terlalu mencolok; Warnanya pun lembut dan tidak terlalu mencolok. Terbuat dari bahan yang nyaman dipakai. Jika kita adalah penyandang tunanetra kategori buta total, kita dapat meminta pendapat orang yang tidak tunanetra yang ada di sekitar kita, apakah pakaian yang akan kita kenakan untuk mengikuti wawancara kerja sudah sesuai. Kesesuaian ini perlu pula dipertimbangkan terkait dengan posisi atau lowongan kerja yang ditawarkan.
  2. Kemampuan orientasi dan mobilitas baik di luar maupun di dalam ruangan. Kemampuan orientasi dan mobilitas adalah simbol kemandirian seorang tunanetra. Berjalanlah dengan punggung tegak, dan tidak menyeret langkah kaki. Hal itu akan mencerminkan optimisme kita. Gunakan tongkat sebagai alat bantu mobilitas denan tepat; Bagaimana menggunakan di luar ruangan dan bagaimana menggunakannya di dalam ruangan. Melalui ketrampilan orientasi dan mobilitas yang kita miliki dan kita tunjukkan saat berinteraksi dengan orang lain, akan menunjukkan bahwa kita adalah penyandang tunanetra yang mandiri.
  3. Cara Berjabat tangan. Jabat tangan adalah simbol bahwa kita ingin dan senang berinteraksi dengan orang yang berjabat tangan dengan kita. Olehkarenanya, jabatlah tangan orang yang ada di hadapan kita dengan hangat; Tidak terlalu lemah namun juga tidak terlalu kencang. Dalam sebuah wawancara kerja atau pertemuan perkenalan untuk suatu bisnis, cara kita berjabat tangan memiliki nilai tersendiri.
  4. Saat sedang berbicara dengan seseorang, hadapkan wajah kita ke arah sumber suara orang yang sedang berbicara, meski kita tidak dapat melihatnya. Ada kebiasaan sebagian tunanetra, karena dalam berkomunikasi hanya mengandalkan indera pendengaran, maka, saat berbicara dengan seseorang, yang berhadapan dengan lawan bicara adalah telinga. Dengan kata lain, tunanetra memiringkan wajahnya atau tidak menghadapkan wajahnya ke arah sumber suara. Karena tunanetra tidak dapat melihat, tentu saja wajahnya tidak akan persis berhadapan dengan wajah lawan bicara; Namun, usahakan agar wajah kita mengarah ke sumber suara orang yang sedang kita ajak berbicara.
  5. Cara duduk. Sebagaimana halnya saat berjalan, saat duduk juga disarankan tetap dalam posisi punggung yang tegak, dan tidak membungkuk. Posisi kepala pun juga sejajar satu garis dengan punggung kita; Dengan kata lain, jangan menundukkan wajah atau kepala. Banyak penyandang tunanetra, yang tanpa disadari menundukkan wajah atau kepala saat berbicara dengan orang lain. Kebiasaan ini perlu diperbaiki. Postur tubuh yang tegak mencerminkan sikap yang lebih optimis. Di samping itu, postur tubuh yang membungkuk juga kurang baik untuk kesehatan kita. Dengan berdiri dan duduk di posisi punggung dan kepala yang tegak, beban tubuh akan ditanggung bersama, tidak tertumpu di satu titik, sehingga dapat menghindari resiko saraf terjepit.
  6. Ekspresi wajah. Meski seorang tunanetra tidak dapat melihat wajahnya sendiri atau kurang dapat melihat wajahnya sendiri dengan jelas, pada saat berbicara pun diharapkan juga mengekspresikan wajahnya sesuai dengan konteks pembicaraan yang dilakukan. Pada saat menempuh wawancara kerja misalnya, jangan lupa menyunggingkan senyum yang wajar dan tulus saat menyapa orang yang akan mewawancarai. Senyum dapat pula untuk mengendurkan ketegangan saat proses wawancara kerja atau saat presentasi untuk menawarkan kerja sama bisnis.

Soft skill di bidang komunikasi baik komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal adalah keterampilan yang tidak dapat dicapai secara instan; Keterampilan tersebut harus terus dibangun sepanjang hidup kita. Untuk memiliki kemampuan bahasa tubuh yang baik, perlu ada latihan sebagai pendukung. Penulis mengamati, penyandang tunanetra yang aktif melakukan kegiatan yang melibatkan gerak tubuh seperti olah raga dan teater memiliki kemampuan body language yang lebih baik dibandingkan dengan tunanetra yang cenderung pasif dan tidak banyak melakukan kegiatan yang membutuhkan gerak tubuh. Dengan melakukan kegiatan yang mengharuskan kita melakukan gerak fisik, akan membuat tubuh kita menjadi lebih lentur; Hal ini pun sangat baik untuk kesehatan kita secara keseluruhan.
*Aria Indrawati.

About Author

Leave Comment